Sabtu, 06 Juni 2009

Mang Udin

”Den, Aden, sepedanya kok ditaruh di luar, Den? Kalau dicuri orang bagaimana? Mau Mang masukin, eh, Aden kunci setir. Masukin, Den, kalau nggak mau masukin, kuncinya kasihin ke Mang, biar Mang yang masukin,” teriak Mang Udin dari luar.

Duh, pembantu kesayanganku yang satu itu emang cerewet. Mbok Nem yang supercerewet itu aja kalah. Seperti yang terjadi di Minggu pagi nan cerah ini, teriakan Mang Udin mengalahkan kerasnya suara komando seorang komandan pasukan yang mengintruksikan pada pasukannya untuk segera menyerang.

Walaupun begitu, Mang Udin adalah orang yang paling kusayangi setelah bapak, ibu, Adikku Tantri, dan Mbok Nem. Mbok Nem dan Mang Udin adalah sepasang suami istri. Mereka sudah menjadi bagian dari keluargaku sejak 18 tahun yang lalu. Sama dengan usiaku.

Sejak kecil, aku terbiasa bersama Mbok Nem dan Mang Udin. Bukan karena bapak dan ibuku malas ngasuh aku yang bandel ini, tapi waktu itu bapak dan ibuku masih sibuk dengan usaha tekstil yang baru saja dirintis. Kebetulan Bapak dan Ibuku sama-sama punya bakat wirausaha.

Waktu itu, bapak dan ibuku belum semapan sekarang. Bapak baru saja di-PHK oleh perusahaan tempatnya bekerja, karena ada efisiensi karyawan. Sedangkan ibu adalah seorang penjahit yang sudah lumayan banyak pelanggan. Akhirnya, pesangon bapak dan hasil tabungan ibu digabung untuk mendirikan usaha tekstil yang jangkauan pasarnya lebih luas.

Karena itu konsentrasi bapak dan ibuku jadi terpusat pada usaha barunya. Agar aku ada yang mengurus, ibuku meminta bantuan nenekku di desa untuk mengirimkan orang untuk mengasuhku. Sejak itu datanglah Mbok Nem dan Mang Udin sekaligus untuk mengasuhku dan mengurusi pekerjaan rumah. Meski Mbok Nem yang kebagian mengurusi aku, tapi aku lebih senang diajak oleh Mang Udin. Sampai-sampai dulu, kalau ditanya siapa nama bapakku, aku langsung menjawab, ”Udin.”

Ah…, kok jadi melamun mengenang kisah yang dulu. Segera kusahuti teriakan Mang Udin yang belum berhenti. ”Iya, Mang, siap…! Wawan sudah mau ke depan nih, nggak usah teriak-teriak lagi.”

Di halaman depan rumah, kujumpai Mang Udin yang masih ngomel pelan, sambil terus menyiram tanaman. Mulutnya komat-kamit kata yang tak bisa kudengar secara jelas. Sebelum komat-kamit itu berubah menjadi keras lagi, segera kumasukkan motorku ke dalam halaman rumah.

***

Senin pagi…

Den, cepetan mandi, sudah jam enam. Aden nggak takut telat? Pengen bolos ya? Kalau telat, kata Aden kan nggak boleh masuk kelas. Iya kan , Den? Gak boleh begitu Den, kasihan bapak sama ibu sudah susah-susah nyekolahin Aden ,” omelan panjang Mang Udin menyapaku di pagi yang agak mendung ini.

”Aduh Mang…, iya Wawan juga tahu kalau nggak boleh telat. Sekolahnya cuma berapa meter dari rumah kok pusing amat. Wawan nggak bakal telat. Tinggal lari, wuss…, sampe’ deh,” sahutku sambil bergurau.

Tak urung Mang Udin juga tertawa. Barisan giginya yang tetap putih dan utuh meskipun sudah tua, menambah segar tertawanya. ”Iya, Den. Kadang Mang Udin lupa kalau sekolahnya Aden deket-deket sini aja. Ingat cucu Mang Udin di desa yang harus berangkat jam lima pagi karena sekolahnya jauh, naik sepeda pancal lagi. Mang sering kangen, jadi sering inget. Maap ya, Den?”

”Nggak masalah, Mang. Eh, Mang, Wawan bantu ya nyuci mobilnya bapak? Sambil olahraga sedikit-sedikit,” langsung aja kuambil selang air. Mang Udin yang mencuci dengan sabun, aku yang menyirami mobil dengan air.

Seneng sekali hatiku pagi itu. Kami berdua mencuci mobil bapak sambil ngobrol banyak. Mang Udin cerita kalau ia sering kangen sama cucu-cucunya di desa. Tapi kalau sudah di desa, gantian dia dan Mbok Nem yang kangen sama aku dan Tantri. Jadi pengennya cepet balik ke rumah.

Pagi itu juga, tiba-tiba aku ingin bermanja-manja dengan Mang Udin. Sampai bapak, ibu, Tantri, Mbok Nem, bahkan Mang Udin sendiri heran saat kuminta ia menyuapiku sarapan. Bahkan Tantri sempat berseloroh, ”Abang kangen masa kecilnya, Mang, diturutin aja. Kalau nggak, nanti mintanya malah macem-macem. Mang sendiri yang susah.”

Sedang Mbok Nem senyum-senyum sendiri, sambil menyahut omongan Tantri, ” Aden pengen dimanja sama Akang, mungkin lagi pengen curhat masalah cewek ya, Den? Soalnya sering denger cerita kalau Akang dulu itu pemuda idaman.” Kontan semua jadi tertawa lebih keras.

Aku tak peduli ucapan mereka semua. Biar dibilang lelaki cemen juga nggak masalah. Yang penting aku pengen dimanja Mang Udin. Ingin berlama-lama cerita bersamanya. Ingin menatap wajahnya lebih lama. Saat pamit, kuciumi tangannya lamaaaaa…., sampai dia jadi sungkan sendiri. Hatiku berat berangkat sekolah,. Entah kenapa….

***

Jam dua, pulang sekolah. Kujumpai rumahku sepi melompong. Kubaca di daftar pesan, tenyata kuncinya dititipkan ke tetangga. Bergegas kuambil kunci di Bu Rami, tetangga sebelah kananku. Dari sana aku tahu sebuah berita yang cukup menggelisahkan hatiku. Dari secarik kertas yang juga dititipkan Ibu. Mang Udin masuk rumah sakit, kecelakaan.

Sebelum sempat kuambil motorku, Bu Rami menyuruhku mengambil apa yang dipesankan ibu di rumah. Telepon berdering. Hatiku berdoa. Hatiku berdoa. Hatiku berdoa. Berdoa kencang.

Den, Wawan,” suara Mbok Nem di seberang sana. Hatiku berdoa bertambah kencang. ”Den Wawan. Mang Udin sudah pergi. Aden tadi sudah dihubungi Ibu, tapi hp Aden ketinggalan di rumah. Tadi Mang Udin mau mengantarkan PR Fisika Aden ke sekolah. Kasian liat Aden dihukum katanya, apalagi dia tahu kemarin Aden mengerjakan sampai malam. Tapi, di tengah jalan ada truk yang nyelonong…lalu..lalu,” suara Mbok Nem sudah tak bisa kudengar lagi.

Mang Udin…omelannya…PR Fisikaku…Truk…Senyumnya tadi pagi…Giginya yang putih…, tiba-tiba semuanya gelap. Mang Udinku hilang….Mang Udinku…Mang Udinku…Bapakku…

Read More..