
Aku suka bintang. Suka sekali. Melebihi sukaku pada es krim, boneka Barbie, coklat, dan roti. Karena mendapatkan bintang tidak memerlukan pengorbanan seperti ketika ingin mendapatkan es krim, boneka, coklat, dan roti. Karena bintang bersedia menemaniku tanpa diminta. Karena bintang hadir selalu indah. Karena bintang tak pernah berkilau setengah-setengah.
Aku suka bintang. Layaknya putri dalam negeri dongeng yang sangat suka pada pangerannya. Namun, aku suka bintang melebihi sukaku pada seorang yang disebut pangeran. Karena pangeran tidak setulus bintang. Karena pangeran tidak sekemilau bintang. Karena pangeran hanya ada dalam buaian pikiran, tidak nyata seperti bintang.
Aku suka bintang. Layaknya seorang bapak yang sangat suka memapah anaknya belajar berjalan. Namun, aku suka bintang melebihi sukaku pada seorang yang disebut bapak. Karena bapak tak pernah hadir dengan senyum ramah di balik kumisnya. Karena bapak hanyalah khayalan tak bertepi yang ingin segera kutemui. Karena bapak tak pernah mengajariku berjalan. Tidak seperti bintang, yang selalu memberi petunjuk bagi langkahku.
Aku suka bintang. Layaknya seorang anak yang sangat suka bermain dengan anak seusianya. Namun, sukaku pada bintang melebihi sukaku pada seorang yang disebut anak seusiaku. Karena anak seusiaku hanya bermain dengan anak yang mereka anggap sama dengannya. Karena anak seusiaku terbiasa mengadu pada bukan anak seusiaku. Karena anak seusiaku tidak pernah merasa kelabu seperti warna hariku. Karena anak seusiaku tidak pernah akan mengerti aku. Tidak seperti bintang, yang selalu bermain denganku tanpa melihat ini-ituku.
Aku suka bintang. Layaknya malam yang sangat suka kehadiran sang bintang. Namun, sukaku pada bintang melebihi sukaku pada malam yang menghadirkan bintang. Karena malam adalah kelam tanpa kehadiran sang bintang. Karena malam hanyalah kegelapan yang tak berpetunjuk sinar tanpa ketulusan hati sang bintang.
***
”Duh, nih bocah! Sudah saya kasih tahu dari tadi, apa-apa sekarang itu mahal. Nasi sama tempe itu harganya seribu lima ratus. Kalau yang beli seperti kamu semua. Bisa bangkrut saya! Sudah sana pergi! Punya uang seribu minta makan ada lauknya. Masih untung kalau kamu kukasih nasi saja. Eh, malah maksa ada lauknya. Sudah sana!”
Aku bingung, marah pada keadaan. Salahkah orang yang hanya punya uang seribu rupiah? Salahkah jika perutku menuntut haknya? Salahkah aku memohon sebuah kerelaan hati saja? Toh aku tidak sepenuhnya meminta-minta. Toh aku sudah berusaha. Toh aku…toh aku…
Huh kuseka keringat yang mengucur perlahan. Surabaya semakin tanpa ampun menunjukkan sengatannya. Bukan hanya sengatan matahari, tapi juga sengatan pada hati. Sikat dan semir, serta lap yang kubawa seakan-akan sudah meronta untuk segera dipergunakan. Tapi, apa daya? Jika tak ada satupun orang yang memakai jasaku sedari pagi ini. Aku ingin segera malam…, segera bertemu bintang…, walau gelap, tapi bisa kulepas kepenatan.
Malam telah tiba. Uang seribu sisa hari kemarin masih kupegang. Tak berubah. Lumayan, setelah dimaki-maki oleh bapak pemilik warung tadi, ada sekelompok mbak-mbak cantik dan mas-mas ganteng, membagi nasi bungkus gratis di jalan. Aku tak tahu mereka dari mana dan maksudnya apa. Tapi yang aku lihat jelas di mobil tempat mereka mengangkut nasi, ada kain lebar yang bertuliskan ”Aksi Bakti Sosial Pemuda-Pemudi Pembela Hak Rakyat bekerja sama dengan Partai Milik Golongan Seluruh Bangsa (PMGSB). Yang aku heran, mengapa tidak menanyai kami nanti makan malam apa? Ah, sudahlah, yang penting perutku sudah terpenuhi haknya.
Bintang di langit sungguh indah. Aku berjalan menuju lapangan tempat aku biasa berbaring dengan sangat gembira. Tak sabar untuk segera bercerita pada bintang.
Aku tidak mengerti. Tubuhku seraya melayang. Ingin kuteriak, tapi tak ada kata yang bisa keluar. Kulihat ke atas langit…ada bintang. Dia melambaikan tangan, kilaunya semakin tercerahkan…Dan tiba-tiba semuanya menghilang…gelap…yang kulihat dan kutahu cuma ada bintang. Karena aku suka bintang. Suka sekali.
Jember, untuk potret lusuh kehidupan; di langit banyak bintang!
Gambar diambil dari (helengurl.wordpress.com)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar