Selasa, 30 Desember 2008

Aku Suka Bintang


Aku suka bintang. Suka sekali. Melebihi sukaku pada es krim, boneka Barbie, coklat, dan roti. Karena mendapatkan bintang tidak memerlukan pengorbanan seperti ketika ingin mendapatkan es krim, boneka, coklat, dan roti. Karena bintang bersedia menemaniku tanpa diminta. Karena bintang hadir selalu indah. Karena bintang tak pernah berkilau setengah-setengah.

Aku suka bintang. Layaknya putri dalam negeri dongeng yang sangat suka pada pangerannya. Namun, aku suka bintang melebihi sukaku pada seorang yang disebut pangeran. Karena pangeran tidak setulus bintang. Karena pangeran tidak sekemilau bintang. Karena pangeran hanya ada dalam buaian pikiran, tidak nyata seperti bintang.

Aku suka bintang. Layaknya seorang ibu yang sangat suka menimang anaknya. Namun, aku suka bintang melebihi sukaku pada seorang yang disebut ibu. Kerena aku tak pernah tahu sosok ibu. Karena ibu adalah sebuah ilusi semu dengan harapanku untuk segera bertemu. Karena ibu tak pernah menimangku. Karena ibu tak pernah meninabobokanku pada setiap malam seperti nyanyian sang bintang.

Aku suka bintang. Layaknya seorang bapak yang sangat suka memapah anaknya belajar berjalan. Namun, aku suka bintang melebihi sukaku pada seorang yang disebut bapak. Karena bapak tak pernah hadir dengan senyum ramah di balik kumisnya. Karena bapak hanyalah khayalan tak bertepi yang ingin segera kutemui. Karena bapak tak pernah mengajariku berjalan. Tidak seperti bintang, yang selalu memberi petunjuk bagi langkahku.

Aku suka bintang. Layaknya orang miskin yang sangat suka pada dermawan. Namun, sukaku pada bintang melebihi sukaku pada seorang yang disebut dermawan. Karena dermawan tak akan pernah singgah dalam laparku dengan tulus dan tanpa maksud. Karena dermawan hanya tersenyum di pipi dan menyeringai bak srigala di hati. Karena dermawan hanya ratapan tak henti untuk melihat ibaan diri. Tidak seperti bintang, yang tulus menjadi dermawan sinar di setiap malam gelapku.

Aku suka bintang. Layaknya seorang anak yang sangat suka bermain dengan anak seusianya. Namun, sukaku pada bintang melebihi sukaku pada seorang yang disebut anak seusiaku. Karena anak seusiaku hanya bermain dengan anak yang mereka anggap sama dengannya. Karena anak seusiaku terbiasa mengadu pada bukan anak seusiaku. Karena anak seusiaku tidak pernah merasa kelabu seperti warna hariku. Karena anak seusiaku tidak pernah akan mengerti aku. Tidak seperti bintang, yang selalu bermain denganku tanpa melihat ini-ituku. 

Aku suka bintang. Layaknya deburan ombak yang sangat suka untuk menghampiri tepi pantai. Namun, sukaku pada bintang melebihi sukaku pada sebuah ombak dan sebuah pantai. Karena ombak tidak tentu berperasaan. Karena ombak datang, terkadang dengan muka cerah dan muka masam. Karena pantai hanya tepi yang akan terkikis dengan serbuan ombak bermuka masam. Tidak seperti bintang, yang tak pernah bermuka masam, dan tak pernah terkikis guratan.

Aku suka bintang. Layaknya malam yang sangat suka kehadiran sang bintang. Namun, sukaku pada bintang melebihi sukaku pada malam yang menghadirkan bintang. Karena malam adalah kelam tanpa kehadiran sang bintang. Karena malam hanyalah kegelapan yang tak berpetunjuk sinar tanpa ketulusan hati sang bintang. 

Aku suka bintang. Melebihi sukaku pada diriku sendiri. Karena aku hanyalah sosok tak berarti. Karena aku hanyalah kegelapan tak bertepi. Karena kau tak suka akan kehadiran diriku. Hanya bintang. Yang kusuka hanya bintang.

***

”Pak, boleh, ya Pak? Uang saya tinggal seribu. Saya lapar sekali. Beli nasi sama tempe saja ya, Pak? Masa seribu tidak boleh?”
”Duh, nih bocah! Sudah saya kasih tahu dari tadi, apa-apa sekarang itu mahal. Nasi sama tempe itu harganya seribu lima ratus. Kalau yang beli seperti kamu semua. Bisa bangkrut saya! Sudah sana pergi! Punya uang seribu minta makan ada lauknya. Masih untung kalau kamu kukasih nasi saja. Eh, malah maksa ada lauknya. Sudah sana!”

Aku bingung, marah pada keadaan. Salahkah orang yang hanya punya uang seribu rupiah? Salahkah jika perutku menuntut haknya? Salahkah aku memohon sebuah kerelaan hati saja? Toh aku tidak sepenuhnya meminta-minta. Toh aku sudah berusaha. Toh aku…toh aku…

Saat seperti ini aku merindukan bintang. Saat ada bintang aku pasti bisa bercerita banyak padanya. Dan, laparku bisa sedikit berkurang.

Huh kuseka keringat yang mengucur perlahan. Surabaya semakin tanpa ampun menunjukkan sengatannya. Bukan hanya sengatan matahari, tapi juga sengatan pada hati. Sikat dan semir, serta lap yang kubawa seakan-akan sudah meronta untuk segera dipergunakan. Tapi, apa daya? Jika tak ada satupun orang yang memakai jasaku sedari pagi ini. Aku ingin segera malam…, segera bertemu bintang…, walau gelap, tapi bisa kulepas kepenatan.

***

Malam telah tiba. Uang seribu sisa hari kemarin masih kupegang. Tak berubah. Lumayan, setelah dimaki-maki oleh bapak pemilik warung tadi, ada sekelompok mbak-mbak cantik dan mas-mas ganteng, membagi nasi bungkus gratis di jalan. Aku tak tahu mereka dari mana dan maksudnya apa. Tapi yang aku lihat jelas di mobil tempat mereka mengangkut nasi, ada kain lebar yang bertuliskan ”Aksi Bakti Sosial Pemuda-Pemudi Pembela Hak Rakyat bekerja sama dengan Partai Milik Golongan Seluruh Bangsa (PMGSB). Yang aku heran, mengapa tidak menanyai kami nanti makan malam apa? Ah, sudahlah, yang penting perutku sudah terpenuhi haknya.

Bintang di langit sungguh indah. Aku berjalan menuju lapangan tempat aku biasa berbaring dengan sangat gembira. Tak sabar untuk segera bercerita pada bintang. 

Tin,…tin…,tin…Gubrak! Ah, aku tak ingat apa-apa lagi. Seingatku aku tadi hendak menyeberang jalan. Cuma samar-samar kulihat sebuah mobil biru yang sangat bagus berhenti agak jauh dari tempatku. Seorang keluar dari pintu mobil. Ha..? mbak itu? Mbak yang tadi ikut membagi-bagikan nasi bungkus itu? Dia melihatku dari kejauhan, lalu masuk lagi, dan mobil itu langsung melesat pergi.

Aku tidak mengerti. Tubuhku seraya melayang. Ingin kuteriak, tapi tak ada kata yang bisa keluar. Kulihat ke atas langit…ada bintang. Dia melambaikan tangan, kilaunya semakin tercerahkan…Dan tiba-tiba semuanya menghilang…gelap…yang kulihat dan kutahu cuma ada bintang. Karena aku suka bintang. Suka sekali.

Jember,  untuk potret lusuh kehidupan; di langit banyak bintang!

Gambar diambil dari (helengurl.wordpress.com)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar