Sudah dua hari ini, hati Nayla agak lega. Dia selesai menjahit selimut untuk dibuatnya tidur bersama emaknya. Walaupun hanya terbuat dari kain bekas yang dibelinya dari Mbok Minah, tetangganya, baginya itu sudah cukup untuk sedikit membuat hangat tubuhnya dan juga emaknya yang dari kemarin terus batuk-batuk tanpa henti.
Mungkin tubuh tua emaknya sudah tidak lagi kuat menghalau tusukan udara malam yang semakin menggigit. Apalagi, di gubuknya yang lembab. Setidaknya selimut itu dapat dibuat sementara sampai Nayla mampu membeli selimut yang benar-benar selimut; yang tebal dan hangat.
Batuk emaknya yang semakin menjadi-jadi mengisyaratkan padanya bahwa tubuh tua yang sangat disayanginya itu membutuhkan pelengkap tidur selain alas tikar yang memisahkan tubuh emak dan dirinya dari tanah liat gubuknya. Menjadi pelengkap mimpi agar harapan kehangatan hari esok akan menjadi pasti. Lebih baik dari hari ini.
***
Jam dinding satu-satunya di kampung kumuhnya. Yang dipasang warga di mushalla kecil yang terbuat dari bambu, masih menunjukkan pukul 05.00. Namun, Nayla sudah semangat sekali berangkat untuk menjajakan kue dagangan Jeng Sum, keliling sekolah yang membuatnya ingin sekolah, dan juga keluar masuk kampung. Nayla masih berumur 8 tahun. Tapi Nayla tidak bisa sekolah. Tidak ada biaya. Tetangga-tetangganya yang seusia dia pun juga tidak sekolah.
Alasannya sama, tak ada biaya. Apalagi bapaknya sudah lama meninggal karena terjatuh saat menjadi kuli bangunan. Tak ada ganti rugi atau sekedar sumbangan sekadarnya dari tempat bapaknya bekerja. Semuanya berlalu dengan isakan dari Nayla dan emaknya yang tiada henti.
Emaknya yang sudah dua hari ini terbaring sakit sehingga tidak bisa melaukan pekerjaan sehari-harinya menjadi tukang cuci, menambah semangatnya untuk segera menjajakan kuenya. Dia sudah berkhayal. Semakin banyak dagangan yang laku hari ini. Semakin banyak juga uang yang akan dia peroleh. Agar dia bisa membeli obat batuk untuk emak.
Tujuan pertamanya hari ini adalah ke tempat Bu Aris. Semenjak satu bulan yang lalu, Bu Aris menjadi langganan tetapnya setiap hari. Orangnya sangat baik, juga murah hati. Tak jarang, ia sering memberi uang lebih untuk Nayla. Kadang-kadang juga memberi beberapa potong baju yang sangat bagus. Rumah Bu Aris sangat besar dan megah. Begitu juga rumah tetangga-tetangganya. Tetapi, Nayla tak pernah bermimpi untuk tinggal di rumah seperti itu. Gubuk kardusnya yang sekarang, merupakan surga yang terindah untuknya. Karena dihiasi oleh senyuman emak.
”Beli berapa, Bu, pisang gorengnya?” Nayla sangat hafal kesukaan Bu Aris dan keluarganya, yaitu pisang goreng hangat sebagai teman berkumpul di pagi hari.
”Semuanya, deh. Kebetulan kemarin malam, saudara jauh ibu datang. Dan kebetulan semuanya juga suka pisang goreng. Jadi, pisang goreng kamu, hari ini ibu beli semua.”
”Wah, Bu Aris memang baik sekali sama Nayla. Pagi-pagi begini, kue Nayla sudah laku banyak. Jadi Nayla nanti bisa semakin cepat pulang ke rumah dan ketemu emak. Emak Nayla dari kemarin sakit, Bu,” ujar Nayla sambil menerawang sedih. Nayla memang sering cerita pada Bu Aris.
”Kenapa tidak cerita pada ibu dari kemarin? Emak Nayla sudah periksa? Sudah minum obat?”
”Emak tidak mau dibawa ke puskesmas. Katanya masih harus bayar. Emak tidak mau bikin susah Nayla, katanya. Kata emak lagi, mending uangnya buat beli makan.”
”Kalau begitu, pagi ini, bukan pisang goreng Nayla saja yang ibu beli, tapi semua kue Nayla. Jadi Nayla bisa pulang cepat dan bawa emak ke puskesmas.”
Mendengar hal itu bola mata kecil Nayla berbinar-binar penuh cahaya. Dia sangat berterima kasih pada Tuhan untuk anugerah hari itu. Ibu Aris baik sekali.
Dengan takjub, Nayla menyahut, ”Benar, Bu? Terima kasih sekali. Ibu baik sekali pada Nayla. Nanti Nayla pasti cerita sama emak. Emak juga pasti sangat berterima kasih sama Ibu,” jawab Nayla dengan senyum mengembang. Mengungkapkan kebahagiaan yang teramat besar dalam hatinya.
”Sudah. Kamu tak perlu berterima kasih pada ibu. Ibu Cuma membeli daganganmu. Itu saja kok. Sebentar ya, ibu masuk dulu mengambil wadah. Jadi kamu tidak perlu repot membungkus kue-kuenya. Kalau Nayla juga pengen masuk ke dalam, boleh kok.”
”Tidak, Bu. Nayla di sini saja.”. Nayla sudah membayangkan betapa gembiranya emaknya nanti. Dagangan kue Jeng Sum laku semua, dan Nayla bisa pulang pagi.
Tak lama, Bu Aris keluar dengan membawa satu wadah besar dan juga tas plastik besar hitam yang Nayla tak tahu apa isinya.
”Bantu ibu ya, naruh kuenya di wadah ini. Terus, ini ada bingkisan buat emak Nayla. Ini ada selimut, kebetulan tidak dipakai. Kalau emak tidur atau Nayla tidur, kan bisa lebih hangat kalau pakai selimut ini. Ibu juga bawakan bungkuskan sarapan, biar nayla dan emak bisa sarapan sama-sama. Ini uang kuenya, kembaliannya Nayla ambil ya. Biarkan Ibu sedikit bantu Nayla untuk beli obatnya emak. Nayla terima ya?”
Kali ini Nayla tidak bisa berkata apa-apa lagi. Dia sudah ingin menangis saking bahagianya. Selimut! benda yang sudah lama diimpikannya. Selimut tebal dan hangat. Dia sudah memabyangkan betapa hangatnya berada di dekapan selimut pemberian Bu Aris. Emaknya juga pasti akan senang sekali. Setidaknya membatasi tubuh emaknya dengan udara dingin dan kelembapan tanah liat rumahnya, yang membuat emaknya makin sakit parah.
”Terima kasih, Bu. Nayla tidak tahu harus berkata apa lagi. Yang jelas, Nayla senang sekali. Nayla pasti tidak akan pernah lupa kebaikan yang ibu berikan selama ini kepada Nayla. Nayla janji, sepulang Nayla dari sini. Nayla langsung membawa emak ke puskesmas,” sahut Nayla yang sambil menangis. Dia sudah tak kuat menahan air mata bahagianya untuk keluar. Dia sudah lupa, berapa lama, dia tak pernah menangis karena bahagia. Yang ada selama ini hanyalah tangisan duka.
”Sudah-sudah. Berhenti dong nangisnya, ibu ingin lihat Nayla gembira, bukan menangis. Sekarang Nayla cepat pulang. Cepat bawa emak ke puskesmas ya? Besok, kabari ibu bagaimana perkembangan emak,” ujar Bu Aris sambil mengusap kepala Nayla.
”Iya, Bu. Nayla akan lekas bawa emak ke puskesmas. Sekali lagi, terima kasih untuk kebaikan Ibu. Nayla pamit dulu.” Setelah mencium tangan Bu Aris, Nayla pulang dengan segenap hal gembira yang akan disampaikan pada emaknya. dan yang penting, kali ini emak bisa berobat ke puskesmas. Dia membayangkan, seandainya semua orang kaya sikapnya sama dengan Bu Aris…..
***
Sampai kampungnya…., mata Nayla terbelalak. Dia merasa berada dalam alam mimpi. Gubuknya yang baru ditinggalnya selama 3 jam, lenyap tak bersisa. Begitu juga gubuk milik tetangga-tetangganya. Yang ada tinggal suara keras bulldozer untuk meratakan tanah, dan teriakan umpatan dan tangisan yang tak berujung di sana-sini.
Emak! Ya, di mana emak? semuanya dapat dipikirnya belakangan, yang utama adalah emak. di mana emak sekarang? Apalagi saat ditinggal Nayla menjajakan kue tadi, tubuh emak panas, emak sakit. Di mana emak sekarang? Yang ingin dia lihat sekarang, hanyalah emak.
Nayla pun berlarian kesana kemari seraya memanggil emaknya. Menerobos banyak orang.
Yang ada di kepala Nayla hanya emak. tiba-tiba, suara yang sangat amat dikenalnya, suara Mbok Supi, tetangga sebelah kiri gubuknya memanggilnya.
”Nayla, sini. Emak ada di sini. Emak sama Mbok Supi,” Mbok Supi memanggil Nayla dengan wajah penuh air mata.
”Mana, Mbok? Emak Nayla mana?,” dia celingukan melihat di sekitar Mbok Supi berdiri, mencari emaknya, Nayla sudah tidak bisa menyembunyikan tangisan sedihnya.
”Maaf, ya, Nduk. Mbok tidak bisa berbuat apa-apa. Tiba-tiba tadi sekumpulan orang memakai baju hijau-hijau itu menyuruh emakmu dan semua warga di sini keluar. Mereka bilang, kita ini buat rumah di tanah ilegal. Gubuk-gubuk kita semuanya dihancurkan. Katanya tempat ini mau dibangun hotel. Emakmu, juga mbok, dan semuanya hanya bisa menyelamatkan sedikit barang. Semuanya keburu dihancurkan. Tapi…,” Mbok Supi bertutur dengan terpuitus-putus dan terus mengeluarkan air mata.
”Tapi apa, Mbok? Mana emak? Emak Nayla mana?” tanya Nayla bagaikan rintihan yang menyayat. Nayla terus mengedarkan pandangannya sekeliling. Tapi dia tetap tidak bisa menemukan sosok emaknya.
”Emak Nayla sekarang di masjid besar situ. Tadi sudah dimandikan, sekarang tinggal disalati. Nduk, emakmu sekarang sudah menyusul bapakmu ke surga. Tadi emakmu terlalu kaget, dia sakit tapi tetap didorong-dorong keluar. Emakmu tidak kuat. Emakmu ambruk. Emakmu..,” Mbok Supi sudah tak bisa melanjutkan kata-katanya lagi.
Surga? Bapak? Emak menyusul bapak? Nayla langsung menuju masjid besar itu. Di sana ada beberapa tetangganya yang mengaji di samping tubuh emaknya. Wajah emaknya belum ditutup. Nayla menangis. Tapi Nayla melihat emak tersenyum. Emak belum dikafani. Tubuhnya terbungkus selimut. Selimut yang dijahit Nayla tiga hari yang lalu. Selimut yang Nayla rencanakan untuk emak pakai sementara sebelum Nayla sanggup membeli selimut besar dan hangat. Selimut.., selimut yang.., kini, Nayla tak mengerti apa arti selimut. Bukan besar dan hangat. Bukan pula dari kain bekas. Bukan apa-apa.
Selasa, 30 Desember 2008
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar