Sayuti bertelanjang, tangan para adam berebutan mau menyerang.
Aih…, mulus sekali kulitnya bak pualam.
Rambutnya tergerai hitam legam tanpa toning atau semiran.
Sayuti membuka baju kebayanya, menurunkan kutangnya.
Jarik coklat pemberian mendiang emak jadi giliran disingkapnya.
Cawat penutup kewanitaan legawa dilemparkannya.
Aih…., lebih indah dari karya seni manapun,
lebih mulia dari berjuta ukiran patung eksotis.
Lebih benderang daripada ketelanjangan perempuan-perempuan tercantik atau yang disanjung di seluruh belahan bumi.
Sayuti.
"Jamu…jamu…," teriakan halus nan nyaringnya setiap pagi, membangunkan semua adam dari buaian sang istri dan belaian ratu mimpi. Membangunkan sang hawa karena mereka takut suaminya dicuri.
”Minum jamu Sayuti ada bonus segar yang bikin bersemangat di pagi hari,” kata sang adam satu ke sang adam yang lainnya.
”Iya, memandang susu montoknya itu, lho, lebih berkhasiat daripada minum jamunya,” sahut yang lainnya. Ada yang tertawa, ada yang mengiyakan dengan malu-malu.
Malam ini Sayuti bertelanjang.
Tangan para adam gemerlapan mau menyerang.
Di kebun belakang, saat Sayuti mau pulang, Sayuti dihadang.
Mereka ingin Sayuti telanjang,
Sayuti menurut, Sayuti telanjang,
Tangan, syahwat, sperma, mulut, bibir, penis para adam gemerlapan mau menyerang.
Sayuti diserang, di tengah gelapnya malam, di kebun belakang.
”Saudara pendengar, telah ditemukan mayat lima lelaki di sebuah kebun di Desa Gulana. Semuanya dibunuh dengan cara yang sama. Perut kelima lelaki itu ditusuk dengan senjata tajam. Sampai sekarang, polisi masih mengusut siapa dalang dan apa motif pembunuhan itu.” Suara penyiar radio terdengar serak.
"Jamu…, jamu…"
Lima hawa tidak lagi ketakutan mendengar teriakan Sayuti. Lima hawa ketakutan mendengar berita pagi tadi.
Jember, 2009
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar