Rabu, 31 Desember 2008

Cerita Cincin Perempuan

Sudah 15 tahun waktu itu berlalu. Tapi tetap saja rasanya masih terngiang di telinga. Suara-suara itu seperti baru terjadi kemarin malam. Mata ini seperti melalap kejadian itu semenit yang lalu. Dan, bau anyir ini tetap saja terasa—keendus—hidungku yang mekar besar. Ah, aku masih terpekur dalam gelap yang sama. Dengan jari jemari yang gelap pula bersama menggelapnya sosok 10 tahun itu.

Dia, sosok kecil itu meringkuk penuh kelesuan. Tidak menampakkan mukanya. Dia sudah puas dengan apa yang dilihatnya dari dunia bawah hasil ringkukannya.

”Hai, Tom, selamat pagi. Bagaimana kabarmu pagi ini?”

Dia tidak menjawab. Mendongakkan kepala saja tidak mau.

Gampang, batinku. Dia sama dengan pasien-pasienku yang lain, mungkin pada pertemuan pertama ini dia masih canggung, sapaan pertamaku adalah proses adaptasi baginya. Tapi aku yakin sapaan ketiga atau keempat akan membuahkan hasil.

”Ini Ibu Ratna, Ibu datang untuk bermain dengan kamu,” sapaan keduaku dibarengi dengan uluran tangan untuk berkenalan. Dia tetap tidak membalas. Akhirnya kulipat lagi tanganku.
”Selamat pagi, Tommy. Apa kamu tidak melihat betapa cerahnya cuaca? Tidak ingin keluar bermain bersama teman-temanmu? Ibu juga membawakan permen dan kue buat kamu,” kuulangi sapaanku dengan lebih lembut.

Dia tetap diam tak bergerak. Sama sekali tidak menghiraukan sapaanku. Tidak mendongak seperti yang kuprediksikan.

”Kenapa tidak menjawab pertanyaan Ibu, Tommy? Kalau tidak mau menjawab tidak apa-apa. Tapi boleh kan Ibu melihat wajah Tommy sekali saja? Ibu ingin melihat wajah Tommy dengan jelas. Boleh, ya, Tom?”

Lama kutunggu respons anak itu. Tapi tetap saja seperti semula. Dia tetap asyik melihat dunia kecil di dalam sekelumit tangan dan kaki yang terangkum menjadi satu.
Lagi-lagi aku menggerutu dalam hati. Apa susahnya, sih, mendongakkan kepala? Dengan begitu dia bisa sedikit membantuku. Agar aku tidak semakin rumit dengan kerumitan kasus-kasus yang mendesak untuk segera kupecahkan.

Ada 18 kasus gila dalam dua minggu ini. Dan si Tommy ini adalah kasus ke-16 yang masuk ke mejaku. Bersamaan dengan datangya bapak buncit berkumis tebal.

Dia menawarkan segepok kertas mata hijau yang kuhitung-hitung berjumlah sekitar Rp 15 juta. Dan dia mengatakan itu hanya uang mulanya, dia akan menambah Rp 20 juta lagi kalau masalah si Tommy beres alias bisa kujinakkan. Orang waras mana yang bisa menolak uang sebesar itu?
Aku mendengar kisah si Tommy dari luncuran bibir bapak buncit itu sekitar 2,5 jam. Waktu yang lumayan lama dalam daftar jam pertemuanku. Mulai dari A-Z. Mau-tidak mau, meskipun aku agak tidak meyakini apa yang dia tuturkan, tetapi aku berupaya percaya, atau tepatnya berlagak percaya. Yang aku yakini, uang Rp 15 juta, dan bayangan uang Rp 20 juta tidak boleh melayang dari genggamanku. Transaksi tertinggi untuk pasien-pasienku.

Sementara itu, dari perawat rumah sakit ini, aku juga tidak diberi keterangan yang berarti. Selama satu setengah bulan dia dirawat di situ, tidak ada satupun perawat yang mampu membuatnya berbicara. Kertas yang setiap hari diberikan di kamarnya selalu kosong. Sehingga alasan yang membuatnya bersikap yang disebut ”gila” tetap tersimpan rapat-gelap.

Tommy…Tommy, aku capek menungguinya mengangkat muka kurang lebih setengah jam. Dia tetap saja tertunduk. Hanya napas yang beraturan yang tetap kurasakan. Daripada menghabiskan lebih banyak waktu tanpa hasil, lebih baik kutinggalkan saja tempat ini. Kuselesaikan kasus-kasus yang kuprediksikan penanganannya lebih gampang.

”Baiklah kalau begitu, Ibu akan meninggalkanmu. Tapi ibu janji besok akan kembali lagi. Kita bermain bersama ya besok. Selamat siang, Tom.”

Kutunggu kurang lebih 2 menit. Dia tetap saja tidak bergeming. Sia-sia harapanku untuk mendengarkan balasan salamnya. Mendengar sedikit suaranya, meskipun dia tidak mendongakkan wajah. Aku menabahkan hati, mungkin besok pagi hasilnya akan lebih baik.

Pada sore hari aku kembali ke tempat anak itu karena 6 kasus yang lain sudah kuselesaikan setelah pergi dari tempat Tommy tadi. Enam kasus itu kupecahkan dengan durasi masing-masing cuma 20 menit.

Bagaimana tidak, mereka semua adalah orang kaya yang seolah-olah merasa cuma mereka yang mendapatkan masalah paling besar dan tidak terselesaikan di dunia ini. Masalah-masalah mereka hanya berkutat karena gaji suaminya berkurang, tas kesayangan yang seharga 35 juta tiba-tiba menghilang, atau kebingungan mendapatkan hobi baru agar mereka tidak bosan. Ah…lagi-lagi cuma seputar masalah remeh-temeh yang dibesar-besarkan.

Sore ini aku berharap mampu membuat dia mendongakkan wajah. Kalau kue tadi yang kuberikan padanya sudah ia sentuh, pasti dia akan malu kalau tidak membalas salamku. Anak kecil biasanya begitu, batinku. Semoga harapanku bisa tercapai sore ini.

Aku melongok ke kamarnya, melihat apa dia tetap meringkuk dan menunduk di sudut kamar seperti pagi tadi saat pertama kali kutemui. Tapi, aku tidak melihat sosoknya. Yang kutemukan hanyalah kue-kue yang tadi kuberikan padanya. Kue itu sama sekali tidak tersentuh, yang berbeda cuma letaknya. Kue yang tadi kuletakkan di lantai dekat dia meringkuk sekarang berpindah dekat meja yang ada pot bunganya.

Taman. Aku mencari-carinya di rerumputan hijau, mekarnya merah mawar, dan kamboja yang mulai tumbuh membesar dengan wangi khasnya, serta bunga flamboyan yang mulai berguguran. Taman itu tetap tidak menyiratkan apa-apa tentang keberadaannya.

Aku mulai kehabisan semangat. Tidak tahu lagi harus menemukan sosok meringkuk itu di mana. Aku lalu beranjak ke arah samping bangunan kecil tua yang sudah tidak dipakai lagi di rumah sakit ini.

Tepat dugaanku! Kutemukan tubuh meringkuk itu ada di dalam bangunan itu. Sendiri, tidak terjamah oleh keberadaan yang lain. Aku mendekatinya. Dan juga tetap bertanya-tanya dalam hati, apakah dia selalu menyatakan apa yang dia lakukannya dengan meringkuk?
”Sore, Tom. Ibu Ratna kembali lagi di sini. Tadi ibu ke kamarmu, tapi kau tidak ada. Kue yang ibu berikan tadi ada di meja juga masih utuh. Apa ada yang tidak berkenan di hatimu, Tom?”

Dia tetap bergeming. Kutunggu 10 menit sambil terus menanyakan banyak hal, dia tetap juga tidak mendongak atau memberi tanda bahwa apa yang kutanyakan dia dengar. Aku sudah tidak tahan. Sekarang aku harus melakukan tahap kedua, karena tahap berbicaraku sudah tidak digubrisnya. Mau tidak mau aku harus melakukannya, menyentuhnya.

Kusentuh tangannya, dia tetap bergeming. Kusentuh kepalanya, dia juga tak bereaksi. Lalu aku harus menata pada sudut sikunya yang ia buat untuk menumpu kedua kakinya. Aku ingin dia mendongakkan kepalanya, sehingga aku juga bisa mencatat reaksi wajahnya dalam-dalam pada hatiku.

Ah, mengapa dia tidak juga mengerti betapa dengan mendongakkan kepalanya dia bisa memberitahuku banyak hal dan aku tidak perlu khawatir bahwa uang 15 juta yang sudah kudapat akan melayang. Kupegang bahunya. Ternyata dia memberikan reaksi yang kuharap-harapkan sejak tadi. Bahunya sedikit naik dengan tanda tidak ingin menerima kehadiranku.

”Ibu tidak mau menganggumu, ibu cuma ingin menjadi temanmu. Setidaknya membuatmu merasa sedikit lebih lega dan bercerita. Maukah kau berkenalan dengan ibu? Kata orang, tak kenal maka tak sayang,” tuturku lembut penuh harap. Aku ingin sedikit memberi kelegaan pada hati yang sedari tadi agak memerah panas menunggu kemajuan pada kasus ke-16-ku ini.

Baru kali itu dia mengerti apa yang kubicarakan—setidaknya merespons atas pendengarannya yang kuyakin masih cukup jernih. Baru kali itu dia mendongakkan kepala, menunjukkan wajah yang selama ini dia benamkan di balik rambut ikalnya.

Wajah itu cukup bersih. Namun, mata sayu itu menatap nyalang bagai mata elang kepadaku. Seperti mata induk burung yang ingin melindungi anak-anaknya ketika musuh mengobrak-abrik sarangnya.

Ah, ekspresi anak ini sangt tidak mengenakkan hati. Ekspresi terburuk yang pernah kulihat pada wajah seorang anak berumur 10 tahun.

Dia terus menatapku nyalang dari mata sayunya. Aku terkejut luar biasa saat ia menggengggam erat pergelangan tanganku, hampir seperti mencoba membelengguku. Lalu dengan tanpa basa-basi dia merebut cincin yang ada di jari manisku dan membuangnya keluar.

Ingin segera aku beranjak dari tempat itu dan memanggil perawat untuk melaporkan keadaan ini. Namun uang 15 juta itu tiba-tiba muncul di kepalaku, meronta agar aku tidak melakukan itu. Aku bisa mencarinya selepas ini.

Selepas dia melakukan itu, dan sebelum aku terlepas dari renungan dan pergulatan hati serta rasioku, dia tertawa-tawa seperti anak kecil mendapat hadiah es krim atau coklat. Dan dia segera berlari menjauhiku. Aku tidak bisa mengejarnya karena aku masih harus mencari cincin purba itu. Harus, kalau tidak mendapat makian dan omelan panjang dari ibu, kakak, serta banyak saudaraku. Karena cincin itu adalah tradisi. Tradisi yang melambangkan siapa yang belum kawin dari urutan yang tertua.

Senja datang melambangkan matahari yang mulai merona kemera-merahan untuk menyusul datangnya bulan mencapai peraduan. Usahaku mencari cincin itu harus kuhentikan, karena tidak mungkin aku berlomba dengan malam untuk mencari emas kuning kecil itu.

Aku melawan gairahku untuk terus menggerutu dan mengumpat. Usahaku untuk mendekati anak itu sudah mulai menampakkan hasil, meski melenceng dari yang kuharapkan. Aku harus terus mencoba mencari jawaban atas ringkukan, mata nyalang dari mata sayu, dan kegigihan untuk tertawa menakutkan dari anak itu. Agar tidur malam yang kulalui lebih bermakna tanpa ada momok kesenduan-kesenduan kelakukan-kelakukan itu.

Aku kembali ke kamar si Tommy. Di tengah terangnya lampu dop ber-watt tinggi, dia tidak meringkuk lagi. Mungkin karena dia sadar bahwa aku sudah melihat perbuatan wajahnya.
Dia menantang wajahku, mataku, dan tubuhku. Lalu tanpa basa-basi dia bernyanyi dengan kencang, "Ada perempuan cantik dengan cincin kuning berkilau…cincinnya mendarat di hidung anaknya, di mulut anaknya, di pelipis anaknya, di dada anaknya, di pipi anaknya, di tengkuk anaknya, di pantat anaknya. Mendarat dengan api…lilili…mendarat dengan kayu…lululu…mendarat dengan panas setrika..lalala…ada perempuan cantik dengan cincin…cincinnya mendarat di mana-mana…lalala…"

Lalu, dia melihat ke arahku, melihat jari-jemariku yang tidak lagi menggunakan cincin. Dia mendekat ke arahku, meminta tanganku, dengan lembut meminta jari manisku untuk disodorkan.

Bagus sekali, ada benang merah yang ia bentuk cincin akan dia kalungkan pada jari manisku. Suatu tahapan dan kemajuan yang cukup baik untuk satu hari ini. Optimismeku bangkit, uang Rp 20 juta selanjutnya tidak akan lenyap dari impianku.

Benang menyerupai cincin itu dimasukkan ke jari manisku. Pertama-tama dia tersenyum lembut. Namun, seiring dengan itu benang itu semakin mengencang, senyum itu berubah menjadi senyum yang haus darah.

Ya, dia haus darah. Memuaskan haus darahnya lewat senyum menakutkannya, tatapan nyalang dari mata sayunya, dan darah yang perlahan-lahan keluar dari tanganku. Dari jari manisku..semakin lebar luka itu…semakin tumpah darah itu.

***
Malam ini, aku teringat pada sosok itu, menatap pada jemari manisku pada tangan kiri yang telah menghilang. Dan sosok 10 tahun yang tetap meringkuk selama 15 tahun. Masih sama terpekur pada gelap yang semakin menggelap. Semakin gelap dari waktu ke waktu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar