Selasa, 30 Desember 2008

Akses Telekomunikasi, Membuka Harapan bagi yang Terlewatkan

Dulu, menikmati akses telekomunikasi, khususnya dengan teknologi seluler, mungkin hanya menjadi mimpi bagi mayoritas warga Muara Sipongi, Kabupaten Mandailing Natal, Provinsi Sumatera Utara. Berkomunikasi dengan kerabat, menyampaikan informasi penting bagi kolega jauh, atau bertransaksi bisnis lewat saluran telepon seluler menjadi hal yang sangat sulit untuk dilakukan.

Tapi, kini, hal tersebut bukan lagi mimpi. Warga Muara Sipongi bisa tersenyum dan tertawa ria menyampaikan rasa dengan orang yang berseberangan desa, bahkan berseberangan pulau dengannya. Itu semua berkat dibangunnya base transceiver station (BTS) untuk membuka akses telekomunikasi di daerah tersebut.


Daerah Muara Sipongi hanyalah salah satu contoh dari sekian daerah terpencil di Indonesia, yang harus merasakan ketertinggalan dalam akses telekomunikasi. Dan, hal tersebut mengakibatkan warga di daerah terpencil relatif tertinggal dibandingkan warga perkotaan Sebab, tidak dapat dipungkiri bahwa akses telekomunkasi merupakan salah satu syarat untuk menilai tingkat kemajuan masyarakat.

Selain keadaan topografi, faktor lain yang membuat warga masyarakat di kawasan terpencil relative sulit menikmati layanan telekomunikasi adalah kurangnya minat para operator telekomunikasi untuk masuk ke sana. Dulu, para operator telekomunikasi terkesan kurang bergairah membangun jaringan di daerah terpencil karena dari segi bisnis dianggap kurang mendatangkan menjanjikan.


Namun, cerita getir itu hanya berlangsung di era yang lalu. Upaya sinergis banyak pihak, mulai dari pemerintah hingga operator telekomunikasi, membuat banyak daerah terpencil kini bisa menikmati layanan telekomunikasi, termasuk seluler.


Saat ini, di hampir seluruh pelosok negeri ini, fasilitas telekomunikasi bukan lagi menjadi hal yang mewah. Penetrasi pasar seluler diperkirakan akan terus meningkat pada tahun-tahun mendatang. Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI) bahkan memprediksi jumlah pengguna telekomunikasi di segmen seluler bisa mencapai 165 juta pengguna pada tahun 2011.


Pengguna selular berteknologi 2G (two generation) dan 3G (three generation) akan terus bertambah. Pengguna 2G akan meningkat dari tiga juta pengguna pada akhir 2007 menjadi 35,5 juta pengguna pada 2011. Sementara pengguna teknologi 3G akan bertambah, dari level 69,7 juta pada 2007 menjadi 95,5 juta pengguna pada 2011 (Jawa Pos, 13/06/08).


Semakin tinggi penetrasi pasar seluler, dengan sendirinya, berdampak positif bagi kemajuan kehidupan sosial-ekonomi masyarakat. Sebab, seperti diketahui, akses telekomunikasi akan menjamin keterpenuhan kebutuhan masyarakat terhadap ilmu dan informasi. Dari pemenuhan kebutuhan ilmu dan informasi itulah, masyarakat bisa meningkatkan kehidupan sosial-ekonominya.


Pemerintah dan operator telekomunikasi kini terus berkomitmen melakukan pemerataan akses telekomunikasi ke seluruh daerah di Indonesia tanpa terkecuali. Komitmen ini tentu patut diapresiasi. Kini banyak pihak mulai sepenuhnya paham bahwa tingkat kesejahteraan dan peradaban masyarakat bisa semakin maju jika akses telekomunikasi dapat mereka nikmati. Proses relasi kehidupan manusia akan berjalan seiring dengan pesatnya berbagai fasilitas telekomunikasi dan media informasi yang bisa dinikmati masyarakat.


Kerja sinergis antara operator telekomunikasi dan pemerintah membawa efek positif bagi masyarakat, khususnya yang berada di kawasan terpencil. Seluruh perusahaan operator telekomunikasi di Indonesia mendukung upaya pemerataan akses telekomunikasi. Dengan memakai prinsip equal treatment, tidak memandang asal penyelenggara telekomunikasi, pemerintah berupaya memberantas buta telekomunikasi di daerah-daerah terpencil. Salah satunya seperti upaya yang dilakukan oleh Depkominfo bersama dengan PT Excelcomindo Pratama Tbk. Selain membangun BTS di Muara Sipongi, yang lokasinya berada di tengah-tengah hutan belantara dan gugusan Bukit Barisan, Depkominfo dan operator kartu seluler merek XL itu juga bekerja sama membangun BTS di daerah terpencil, tepatnya di wilayah Hamadi, Jayapura, yang dilakukan pada 20 Agustus silam (Kompas, 28/10/08).


Yang menggembirakan, selain masyarakat daerah terpencil bisa menikmati layanan telekomunikasi, para perusahaan operator telekomunikasi juga semakin bisa menempatkan diri atas kepentingan bisnis dan sosialnya. Sehingga, aspek yang dikejar bukan semata untuk keuntungan saja, tetapi juga menaikkan tingkat kemajuan dan kesejahteraan masyarakat di tanah air.


Kerja sama antara pemerintah dan operator telekomunikasi ini harus terus dipertahankan secara terus-menerus, sehingga akan lebih mudah dalam menghadapi tantangan dan hambatan pertelekomunikasian, khususnya di segmen seluler pada masa yang akan datang.


Dengan dibangunnya akses telekomunikasi, tidak berlebihan jika dikatakan masa depan warga di daerah terpencil, yang selalu identik dengan keterbelakangan dalam segala hal, bisa berubah. Sebab, akses telekomunikasi memberi harapan yang besar bagi masyarakat di daerah terpencil agar lebih bisa membuka diri dan menerima setiap informasi. Alhasil, kemajuan ilmu pengetahuan bukan lagi hal yang sulit diakses oleh mereka.


Ketersediaan akses telekomunikasi bisa membuka gerbang pengetahuan masyarakat di daerah terpencil dan meningkatkan kesejahteraan melalui pengembangan bisnis sehari-hari mereka, tanpa perlu ketinggalan dengan masyarakat perkotaan. Sebab, seperti sudah disinggung di atas, peran sektor telekomunikasi sangat besar dalam mengubah kehidupan sosial-ekonomi masyarakat daerah terpencil menjadi semakin baik.


Contoh kecilnya, sebelum akses telekomunikasi masuk, seseorang yang berprofesi sebagai pedagang baju di daerah terpencil harus terlebih dahulu menunggu barang dagangan datang tanpa mendapat info pengetahuan dasar mereka tentang harga, keadaan barang, dan juga agen distribusi serta transportasi yang paling efisien. Dengan dibangunnya BTS dan beroperasinya beberapa operator seluler di sana, mereka akan terbantu untuk mengetahui lebih detail segala hal yang menyangkut kebutuhan bisnis mereka.


Contoh lainnya, warga yang bekerja sebagai petani bisa memastikan kapan pupuk subsidi dari pemerintah bisa sampai ke daerah mereka serta menghubungi dinas pertanian yang umumnya berlokasi di kabupaten apabila membutuhkan bantuan jika terjadi masalah.


Membuka akses telekomunikasi di daerah terpencil, khususnya seluler, dengan harga dan layanan yang bisa dijangkau masyarakatnya, sama saja dengan membuka harapan baru untuk perbaikan masa depan bagi banyak orang—masyarakat yang selama ini sering terlewatkan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar