Sabtu, 06 Juni 2009

Mang Udin

”Den, Aden, sepedanya kok ditaruh di luar, Den? Kalau dicuri orang bagaimana? Mau Mang masukin, eh, Aden kunci setir. Masukin, Den, kalau nggak mau masukin, kuncinya kasihin ke Mang, biar Mang yang masukin,” teriak Mang Udin dari luar.

Duh, pembantu kesayanganku yang satu itu emang cerewet. Mbok Nem yang supercerewet itu aja kalah. Seperti yang terjadi di Minggu pagi nan cerah ini, teriakan Mang Udin mengalahkan kerasnya suara komando seorang komandan pasukan yang mengintruksikan pada pasukannya untuk segera menyerang.

Walaupun begitu, Mang Udin adalah orang yang paling kusayangi setelah bapak, ibu, Adikku Tantri, dan Mbok Nem. Mbok Nem dan Mang Udin adalah sepasang suami istri. Mereka sudah menjadi bagian dari keluargaku sejak 18 tahun yang lalu. Sama dengan usiaku.

Sejak kecil, aku terbiasa bersama Mbok Nem dan Mang Udin. Bukan karena bapak dan ibuku malas ngasuh aku yang bandel ini, tapi waktu itu bapak dan ibuku masih sibuk dengan usaha tekstil yang baru saja dirintis. Kebetulan Bapak dan Ibuku sama-sama punya bakat wirausaha.

Waktu itu, bapak dan ibuku belum semapan sekarang. Bapak baru saja di-PHK oleh perusahaan tempatnya bekerja, karena ada efisiensi karyawan. Sedangkan ibu adalah seorang penjahit yang sudah lumayan banyak pelanggan. Akhirnya, pesangon bapak dan hasil tabungan ibu digabung untuk mendirikan usaha tekstil yang jangkauan pasarnya lebih luas.

Karena itu konsentrasi bapak dan ibuku jadi terpusat pada usaha barunya. Agar aku ada yang mengurus, ibuku meminta bantuan nenekku di desa untuk mengirimkan orang untuk mengasuhku. Sejak itu datanglah Mbok Nem dan Mang Udin sekaligus untuk mengasuhku dan mengurusi pekerjaan rumah. Meski Mbok Nem yang kebagian mengurusi aku, tapi aku lebih senang diajak oleh Mang Udin. Sampai-sampai dulu, kalau ditanya siapa nama bapakku, aku langsung menjawab, ”Udin.”

Ah…, kok jadi melamun mengenang kisah yang dulu. Segera kusahuti teriakan Mang Udin yang belum berhenti. ”Iya, Mang, siap…! Wawan sudah mau ke depan nih, nggak usah teriak-teriak lagi.”

Di halaman depan rumah, kujumpai Mang Udin yang masih ngomel pelan, sambil terus menyiram tanaman. Mulutnya komat-kamit kata yang tak bisa kudengar secara jelas. Sebelum komat-kamit itu berubah menjadi keras lagi, segera kumasukkan motorku ke dalam halaman rumah.

***

Senin pagi…

Den, cepetan mandi, sudah jam enam. Aden nggak takut telat? Pengen bolos ya? Kalau telat, kata Aden kan nggak boleh masuk kelas. Iya kan , Den? Gak boleh begitu Den, kasihan bapak sama ibu sudah susah-susah nyekolahin Aden ,” omelan panjang Mang Udin menyapaku di pagi yang agak mendung ini.

”Aduh Mang…, iya Wawan juga tahu kalau nggak boleh telat. Sekolahnya cuma berapa meter dari rumah kok pusing amat. Wawan nggak bakal telat. Tinggal lari, wuss…, sampe’ deh,” sahutku sambil bergurau.

Tak urung Mang Udin juga tertawa. Barisan giginya yang tetap putih dan utuh meskipun sudah tua, menambah segar tertawanya. ”Iya, Den. Kadang Mang Udin lupa kalau sekolahnya Aden deket-deket sini aja. Ingat cucu Mang Udin di desa yang harus berangkat jam lima pagi karena sekolahnya jauh, naik sepeda pancal lagi. Mang sering kangen, jadi sering inget. Maap ya, Den?”

”Nggak masalah, Mang. Eh, Mang, Wawan bantu ya nyuci mobilnya bapak? Sambil olahraga sedikit-sedikit,” langsung aja kuambil selang air. Mang Udin yang mencuci dengan sabun, aku yang menyirami mobil dengan air.

Seneng sekali hatiku pagi itu. Kami berdua mencuci mobil bapak sambil ngobrol banyak. Mang Udin cerita kalau ia sering kangen sama cucu-cucunya di desa. Tapi kalau sudah di desa, gantian dia dan Mbok Nem yang kangen sama aku dan Tantri. Jadi pengennya cepet balik ke rumah.

Pagi itu juga, tiba-tiba aku ingin bermanja-manja dengan Mang Udin. Sampai bapak, ibu, Tantri, Mbok Nem, bahkan Mang Udin sendiri heran saat kuminta ia menyuapiku sarapan. Bahkan Tantri sempat berseloroh, ”Abang kangen masa kecilnya, Mang, diturutin aja. Kalau nggak, nanti mintanya malah macem-macem. Mang sendiri yang susah.”

Sedang Mbok Nem senyum-senyum sendiri, sambil menyahut omongan Tantri, ” Aden pengen dimanja sama Akang, mungkin lagi pengen curhat masalah cewek ya, Den? Soalnya sering denger cerita kalau Akang dulu itu pemuda idaman.” Kontan semua jadi tertawa lebih keras.

Aku tak peduli ucapan mereka semua. Biar dibilang lelaki cemen juga nggak masalah. Yang penting aku pengen dimanja Mang Udin. Ingin berlama-lama cerita bersamanya. Ingin menatap wajahnya lebih lama. Saat pamit, kuciumi tangannya lamaaaaa…., sampai dia jadi sungkan sendiri. Hatiku berat berangkat sekolah,. Entah kenapa….

***

Jam dua, pulang sekolah. Kujumpai rumahku sepi melompong. Kubaca di daftar pesan, tenyata kuncinya dititipkan ke tetangga. Bergegas kuambil kunci di Bu Rami, tetangga sebelah kananku. Dari sana aku tahu sebuah berita yang cukup menggelisahkan hatiku. Dari secarik kertas yang juga dititipkan Ibu. Mang Udin masuk rumah sakit, kecelakaan.

Sebelum sempat kuambil motorku, Bu Rami menyuruhku mengambil apa yang dipesankan ibu di rumah. Telepon berdering. Hatiku berdoa. Hatiku berdoa. Hatiku berdoa. Berdoa kencang.

Den, Wawan,” suara Mbok Nem di seberang sana. Hatiku berdoa bertambah kencang. ”Den Wawan. Mang Udin sudah pergi. Aden tadi sudah dihubungi Ibu, tapi hp Aden ketinggalan di rumah. Tadi Mang Udin mau mengantarkan PR Fisika Aden ke sekolah. Kasian liat Aden dihukum katanya, apalagi dia tahu kemarin Aden mengerjakan sampai malam. Tapi, di tengah jalan ada truk yang nyelonong…lalu..lalu,” suara Mbok Nem sudah tak bisa kudengar lagi.

Mang Udin…omelannya…PR Fisikaku…Truk…Senyumnya tadi pagi…Giginya yang putih…, tiba-tiba semuanya gelap. Mang Udinku hilang….Mang Udinku…Mang Udinku…Bapakku…

Read More..

Senin, 02 Februari 2009

Sayuti

Sayuti bertelanjang, tangan para adam berebutan mau menyerang.
Aih…, mulus sekali kulitnya bak pualam.
Rambutnya tergerai hitam legam tanpa toning atau semiran.

Sayuti membuka baju kebayanya, menurunkan kutangnya.
Jarik coklat pemberian mendiang emak jadi giliran disingkapnya.
Cawat penutup kewanitaan legawa dilemparkannya.
Aih…., lebih indah dari karya seni manapun,
lebih mulia dari berjuta ukiran patung eksotis.
Lebih benderang daripada ketelanjangan perempuan-perempuan tercantik atau yang disanjung di seluruh belahan bumi.

Sayuti.

"Jamu…jamu…," teriakan halus nan nyaringnya setiap pagi, membangunkan semua adam dari buaian sang istri dan belaian ratu mimpi. Membangunkan sang hawa karena mereka takut suaminya dicuri.

”Minum jamu Sayuti ada bonus segar yang bikin bersemangat di pagi hari,” kata sang adam satu ke sang adam yang lainnya.

”Iya, memandang susu montoknya itu, lho, lebih berkhasiat daripada minum jamunya,” sahut yang lainnya. Ada yang tertawa, ada yang mengiyakan dengan malu-malu.

Malam ini Sayuti bertelanjang.
Tangan para adam gemerlapan mau menyerang.

Di kebun belakang, saat Sayuti mau pulang, Sayuti dihadang.
Mereka ingin Sayuti telanjang,
Sayuti menurut, Sayuti telanjang,
Tangan, syahwat, sperma, mulut, bibir, penis para adam gemerlapan mau menyerang.

Sayuti diserang, di tengah gelapnya malam, di kebun belakang.

”Saudara pendengar, telah ditemukan mayat lima lelaki di sebuah kebun di Desa Gulana. Semuanya dibunuh dengan cara yang sama. Perut kelima lelaki itu ditusuk dengan senjata tajam. Sampai sekarang, polisi masih mengusut siapa dalang dan apa motif pembunuhan itu.” Suara penyiar radio terdengar serak.

Jamu…, jamu….
Lima hawa tidak lagi ketakutan mendengar teriakan Sayuti. Lima hawa ketakutan mendengar berita pagi tadi.

Madiun, 2009 Read More..

Sayuti

Sayuti bertelanjang, tangan para adam berebutan mau menyerang.
Aih…, mulus sekali kulitnya bak pualam.
Rambutnya tergerai hitam legam tanpa toning atau semiran.

Sayuti membuka baju kebayanya, menurunkan kutangnya.
Jarik coklat pemberian mendiang emak jadi giliran disingkapnya.
Cawat penutup kewanitaan legawa dilemparkannya.
Aih…., lebih indah dari karya seni manapun,
lebih mulia dari berjuta ukiran patung eksotis.
Lebih benderang daripada ketelanjangan perempuan-perempuan tercantik atau yang disanjung di seluruh belahan bumi.

Sayuti.

"Jamu…jamu…," teriakan halus nan nyaringnya setiap pagi, membangunkan semua adam dari buaian sang istri dan belaian ratu mimpi. Membangunkan sang hawa karena mereka takut suaminya dicuri.

”Minum jamu Sayuti ada bonus segar yang bikin bersemangat di pagi hari,” kata sang adam satu ke sang adam yang lainnya.

”Iya, memandang susu montoknya itu, lho, lebih berkhasiat daripada minum jamunya,” sahut yang lainnya. Ada yang tertawa, ada yang mengiyakan dengan malu-malu.

Malam ini Sayuti bertelanjang.
Tangan para adam gemerlapan mau menyerang.

Di kebun belakang, saat Sayuti mau pulang, Sayuti dihadang.
Mereka ingin Sayuti telanjang,
Sayuti menurut, Sayuti telanjang,
Tangan, syahwat, sperma, mulut, bibir, penis para adam gemerlapan mau menyerang.

Sayuti diserang, di tengah gelapnya malam, di kebun belakang.

”Saudara pendengar, telah ditemukan mayat lima lelaki di sebuah kebun di Desa Gulana. Semuanya dibunuh dengan cara yang sama. Perut kelima lelaki itu ditusuk dengan senjata tajam. Sampai sekarang, polisi masih mengusut siapa dalang dan apa motif pembunuhan itu.” Suara penyiar radio terdengar serak.

"Jamu…, jamu…"
Lima hawa tidak lagi ketakutan mendengar teriakan Sayuti. Lima hawa ketakutan mendengar berita pagi tadi.

Jember, 2009 Read More..

Rabu, 31 Desember 2008

Cerita Cincin Perempuan

Sudah 15 tahun waktu itu berlalu. Tapi tetap saja rasanya masih terngiang di telinga. Suara-suara itu seperti baru terjadi kemarin malam. Mata ini seperti melalap kejadian itu semenit yang lalu. Dan, bau anyir ini tetap saja terasa—keendus—hidungku yang mekar besar. Ah, aku masih terpekur dalam gelap yang sama. Dengan jari jemari yang gelap pula bersama menggelapnya sosok 10 tahun itu.

Dia, sosok kecil itu meringkuk penuh kelesuan. Tidak menampakkan mukanya. Dia sudah puas dengan apa yang dilihatnya dari dunia bawah hasil ringkukannya.

”Hai, Tom, selamat pagi. Bagaimana kabarmu pagi ini?”

Dia tidak menjawab. Mendongakkan kepala saja tidak mau.

Gampang, batinku. Dia sama dengan pasien-pasienku yang lain, mungkin pada pertemuan pertama ini dia masih canggung, sapaan pertamaku adalah proses adaptasi baginya. Tapi aku yakin sapaan ketiga atau keempat akan membuahkan hasil.

”Ini Ibu Ratna, Ibu datang untuk bermain dengan kamu,” sapaan keduaku dibarengi dengan uluran tangan untuk berkenalan. Dia tetap tidak membalas. Akhirnya kulipat lagi tanganku.
”Selamat pagi, Tommy. Apa kamu tidak melihat betapa cerahnya cuaca? Tidak ingin keluar bermain bersama teman-temanmu? Ibu juga membawakan permen dan kue buat kamu,” kuulangi sapaanku dengan lebih lembut.

Dia tetap diam tak bergerak. Sama sekali tidak menghiraukan sapaanku. Tidak mendongak seperti yang kuprediksikan.

”Kenapa tidak menjawab pertanyaan Ibu, Tommy? Kalau tidak mau menjawab tidak apa-apa. Tapi boleh kan Ibu melihat wajah Tommy sekali saja? Ibu ingin melihat wajah Tommy dengan jelas. Boleh, ya, Tom?”

Lama kutunggu respons anak itu. Tapi tetap saja seperti semula. Dia tetap asyik melihat dunia kecil di dalam sekelumit tangan dan kaki yang terangkum menjadi satu.
Lagi-lagi aku menggerutu dalam hati. Apa susahnya, sih, mendongakkan kepala? Dengan begitu dia bisa sedikit membantuku. Agar aku tidak semakin rumit dengan kerumitan kasus-kasus yang mendesak untuk segera kupecahkan.

Ada 18 kasus gila dalam dua minggu ini. Dan si Tommy ini adalah kasus ke-16 yang masuk ke mejaku. Bersamaan dengan datangya bapak buncit berkumis tebal.

Dia menawarkan segepok kertas mata hijau yang kuhitung-hitung berjumlah sekitar Rp 15 juta. Dan dia mengatakan itu hanya uang mulanya, dia akan menambah Rp 20 juta lagi kalau masalah si Tommy beres alias bisa kujinakkan. Orang waras mana yang bisa menolak uang sebesar itu?
Aku mendengar kisah si Tommy dari luncuran bibir bapak buncit itu sekitar 2,5 jam. Waktu yang lumayan lama dalam daftar jam pertemuanku. Mulai dari A-Z. Mau-tidak mau, meskipun aku agak tidak meyakini apa yang dia tuturkan, tetapi aku berupaya percaya, atau tepatnya berlagak percaya. Yang aku yakini, uang Rp 15 juta, dan bayangan uang Rp 20 juta tidak boleh melayang dari genggamanku. Transaksi tertinggi untuk pasien-pasienku.

Sementara itu, dari perawat rumah sakit ini, aku juga tidak diberi keterangan yang berarti. Selama satu setengah bulan dia dirawat di situ, tidak ada satupun perawat yang mampu membuatnya berbicara. Kertas yang setiap hari diberikan di kamarnya selalu kosong. Sehingga alasan yang membuatnya bersikap yang disebut ”gila” tetap tersimpan rapat-gelap.

Tommy…Tommy, aku capek menungguinya mengangkat muka kurang lebih setengah jam. Dia tetap saja tertunduk. Hanya napas yang beraturan yang tetap kurasakan. Daripada menghabiskan lebih banyak waktu tanpa hasil, lebih baik kutinggalkan saja tempat ini. Kuselesaikan kasus-kasus yang kuprediksikan penanganannya lebih gampang.

”Baiklah kalau begitu, Ibu akan meninggalkanmu. Tapi ibu janji besok akan kembali lagi. Kita bermain bersama ya besok. Selamat siang, Tom.”

Kutunggu kurang lebih 2 menit. Dia tetap saja tidak bergeming. Sia-sia harapanku untuk mendengarkan balasan salamnya. Mendengar sedikit suaranya, meskipun dia tidak mendongakkan wajah. Aku menabahkan hati, mungkin besok pagi hasilnya akan lebih baik.

Pada sore hari aku kembali ke tempat anak itu karena 6 kasus yang lain sudah kuselesaikan setelah pergi dari tempat Tommy tadi. Enam kasus itu kupecahkan dengan durasi masing-masing cuma 20 menit.

Bagaimana tidak, mereka semua adalah orang kaya yang seolah-olah merasa cuma mereka yang mendapatkan masalah paling besar dan tidak terselesaikan di dunia ini. Masalah-masalah mereka hanya berkutat karena gaji suaminya berkurang, tas kesayangan yang seharga 35 juta tiba-tiba menghilang, atau kebingungan mendapatkan hobi baru agar mereka tidak bosan. Ah…lagi-lagi cuma seputar masalah remeh-temeh yang dibesar-besarkan.

Sore ini aku berharap mampu membuat dia mendongakkan wajah. Kalau kue tadi yang kuberikan padanya sudah ia sentuh, pasti dia akan malu kalau tidak membalas salamku. Anak kecil biasanya begitu, batinku. Semoga harapanku bisa tercapai sore ini.

Aku melongok ke kamarnya, melihat apa dia tetap meringkuk dan menunduk di sudut kamar seperti pagi tadi saat pertama kali kutemui. Tapi, aku tidak melihat sosoknya. Yang kutemukan hanyalah kue-kue yang tadi kuberikan padanya. Kue itu sama sekali tidak tersentuh, yang berbeda cuma letaknya. Kue yang tadi kuletakkan di lantai dekat dia meringkuk sekarang berpindah dekat meja yang ada pot bunganya.

Taman. Aku mencari-carinya di rerumputan hijau, mekarnya merah mawar, dan kamboja yang mulai tumbuh membesar dengan wangi khasnya, serta bunga flamboyan yang mulai berguguran. Taman itu tetap tidak menyiratkan apa-apa tentang keberadaannya.

Aku mulai kehabisan semangat. Tidak tahu lagi harus menemukan sosok meringkuk itu di mana. Aku lalu beranjak ke arah samping bangunan kecil tua yang sudah tidak dipakai lagi di rumah sakit ini.

Tepat dugaanku! Kutemukan tubuh meringkuk itu ada di dalam bangunan itu. Sendiri, tidak terjamah oleh keberadaan yang lain. Aku mendekatinya. Dan juga tetap bertanya-tanya dalam hati, apakah dia selalu menyatakan apa yang dia lakukannya dengan meringkuk?
”Sore, Tom. Ibu Ratna kembali lagi di sini. Tadi ibu ke kamarmu, tapi kau tidak ada. Kue yang ibu berikan tadi ada di meja juga masih utuh. Apa ada yang tidak berkenan di hatimu, Tom?”

Dia tetap bergeming. Kutunggu 10 menit sambil terus menanyakan banyak hal, dia tetap juga tidak mendongak atau memberi tanda bahwa apa yang kutanyakan dia dengar. Aku sudah tidak tahan. Sekarang aku harus melakukan tahap kedua, karena tahap berbicaraku sudah tidak digubrisnya. Mau tidak mau aku harus melakukannya, menyentuhnya.

Kusentuh tangannya, dia tetap bergeming. Kusentuh kepalanya, dia juga tak bereaksi. Lalu aku harus menata pada sudut sikunya yang ia buat untuk menumpu kedua kakinya. Aku ingin dia mendongakkan kepalanya, sehingga aku juga bisa mencatat reaksi wajahnya dalam-dalam pada hatiku.

Ah, mengapa dia tidak juga mengerti betapa dengan mendongakkan kepalanya dia bisa memberitahuku banyak hal dan aku tidak perlu khawatir bahwa uang 15 juta yang sudah kudapat akan melayang. Kupegang bahunya. Ternyata dia memberikan reaksi yang kuharap-harapkan sejak tadi. Bahunya sedikit naik dengan tanda tidak ingin menerima kehadiranku.

”Ibu tidak mau menganggumu, ibu cuma ingin menjadi temanmu. Setidaknya membuatmu merasa sedikit lebih lega dan bercerita. Maukah kau berkenalan dengan ibu? Kata orang, tak kenal maka tak sayang,” tuturku lembut penuh harap. Aku ingin sedikit memberi kelegaan pada hati yang sedari tadi agak memerah panas menunggu kemajuan pada kasus ke-16-ku ini.

Baru kali itu dia mengerti apa yang kubicarakan—setidaknya merespons atas pendengarannya yang kuyakin masih cukup jernih. Baru kali itu dia mendongakkan kepala, menunjukkan wajah yang selama ini dia benamkan di balik rambut ikalnya.

Wajah itu cukup bersih. Namun, mata sayu itu menatap nyalang bagai mata elang kepadaku. Seperti mata induk burung yang ingin melindungi anak-anaknya ketika musuh mengobrak-abrik sarangnya.

Ah, ekspresi anak ini sangt tidak mengenakkan hati. Ekspresi terburuk yang pernah kulihat pada wajah seorang anak berumur 10 tahun.

Dia terus menatapku nyalang dari mata sayunya. Aku terkejut luar biasa saat ia menggengggam erat pergelangan tanganku, hampir seperti mencoba membelengguku. Lalu dengan tanpa basa-basi dia merebut cincin yang ada di jari manisku dan membuangnya keluar.

Ingin segera aku beranjak dari tempat itu dan memanggil perawat untuk melaporkan keadaan ini. Namun uang 15 juta itu tiba-tiba muncul di kepalaku, meronta agar aku tidak melakukan itu. Aku bisa mencarinya selepas ini.

Selepas dia melakukan itu, dan sebelum aku terlepas dari renungan dan pergulatan hati serta rasioku, dia tertawa-tawa seperti anak kecil mendapat hadiah es krim atau coklat. Dan dia segera berlari menjauhiku. Aku tidak bisa mengejarnya karena aku masih harus mencari cincin purba itu. Harus, kalau tidak mendapat makian dan omelan panjang dari ibu, kakak, serta banyak saudaraku. Karena cincin itu adalah tradisi. Tradisi yang melambangkan siapa yang belum kawin dari urutan yang tertua.

Senja datang melambangkan matahari yang mulai merona kemera-merahan untuk menyusul datangnya bulan mencapai peraduan. Usahaku mencari cincin itu harus kuhentikan, karena tidak mungkin aku berlomba dengan malam untuk mencari emas kuning kecil itu.

Aku melawan gairahku untuk terus menggerutu dan mengumpat. Usahaku untuk mendekati anak itu sudah mulai menampakkan hasil, meski melenceng dari yang kuharapkan. Aku harus terus mencoba mencari jawaban atas ringkukan, mata nyalang dari mata sayu, dan kegigihan untuk tertawa menakutkan dari anak itu. Agar tidur malam yang kulalui lebih bermakna tanpa ada momok kesenduan-kesenduan kelakukan-kelakukan itu.

Aku kembali ke kamar si Tommy. Di tengah terangnya lampu dop ber-watt tinggi, dia tidak meringkuk lagi. Mungkin karena dia sadar bahwa aku sudah melihat perbuatan wajahnya.
Dia menantang wajahku, mataku, dan tubuhku. Lalu tanpa basa-basi dia bernyanyi dengan kencang, "Ada perempuan cantik dengan cincin kuning berkilau…cincinnya mendarat di hidung anaknya, di mulut anaknya, di pelipis anaknya, di dada anaknya, di pipi anaknya, di tengkuk anaknya, di pantat anaknya. Mendarat dengan api…lilili…mendarat dengan kayu…lululu…mendarat dengan panas setrika..lalala…ada perempuan cantik dengan cincin…cincinnya mendarat di mana-mana…lalala…"

Lalu, dia melihat ke arahku, melihat jari-jemariku yang tidak lagi menggunakan cincin. Dia mendekat ke arahku, meminta tanganku, dengan lembut meminta jari manisku untuk disodorkan.

Bagus sekali, ada benang merah yang ia bentuk cincin akan dia kalungkan pada jari manisku. Suatu tahapan dan kemajuan yang cukup baik untuk satu hari ini. Optimismeku bangkit, uang Rp 20 juta selanjutnya tidak akan lenyap dari impianku.

Benang menyerupai cincin itu dimasukkan ke jari manisku. Pertama-tama dia tersenyum lembut. Namun, seiring dengan itu benang itu semakin mengencang, senyum itu berubah menjadi senyum yang haus darah.

Ya, dia haus darah. Memuaskan haus darahnya lewat senyum menakutkannya, tatapan nyalang dari mata sayunya, dan darah yang perlahan-lahan keluar dari tanganku. Dari jari manisku..semakin lebar luka itu…semakin tumpah darah itu.

***
Malam ini, aku teringat pada sosok itu, menatap pada jemari manisku pada tangan kiri yang telah menghilang. Dan sosok 10 tahun yang tetap meringkuk selama 15 tahun. Masih sama terpekur pada gelap yang semakin menggelap. Semakin gelap dari waktu ke waktu.

Read More..

Selasa, 30 Desember 2008

Akses Telekomunikasi, Membuka Harapan bagi yang Terlewatkan

Dulu, menikmati akses telekomunikasi, khususnya dengan teknologi seluler, mungkin hanya menjadi mimpi bagi mayoritas warga Muara Sipongi, Kabupaten Mandailing Natal, Provinsi Sumatera Utara. Berkomunikasi dengan kerabat, menyampaikan informasi penting bagi kolega jauh, atau bertransaksi bisnis lewat saluran telepon seluler menjadi hal yang sangat sulit untuk dilakukan.

Tapi, kini, hal tersebut bukan lagi mimpi. Warga Muara Sipongi bisa tersenyum dan tertawa ria menyampaikan rasa dengan orang yang berseberangan desa, bahkan berseberangan pulau dengannya. Itu semua berkat dibangunnya base transceiver station (BTS) untuk membuka akses telekomunikasi di daerah tersebut.


Daerah Muara Sipongi hanyalah salah satu contoh dari sekian daerah terpencil di Indonesia, yang harus merasakan ketertinggalan dalam akses telekomunikasi. Dan, hal tersebut mengakibatkan warga di daerah terpencil relatif tertinggal dibandingkan warga perkotaan Sebab, tidak dapat dipungkiri bahwa akses telekomunkasi merupakan salah satu syarat untuk menilai tingkat kemajuan masyarakat.

Selain keadaan topografi, faktor lain yang membuat warga masyarakat di kawasan terpencil relative sulit menikmati layanan telekomunikasi adalah kurangnya minat para operator telekomunikasi untuk masuk ke sana. Dulu, para operator telekomunikasi terkesan kurang bergairah membangun jaringan di daerah terpencil karena dari segi bisnis dianggap kurang mendatangkan menjanjikan.


Namun, cerita getir itu hanya berlangsung di era yang lalu. Upaya sinergis banyak pihak, mulai dari pemerintah hingga operator telekomunikasi, membuat banyak daerah terpencil kini bisa menikmati layanan telekomunikasi, termasuk seluler.


Saat ini, di hampir seluruh pelosok negeri ini, fasilitas telekomunikasi bukan lagi menjadi hal yang mewah. Penetrasi pasar seluler diperkirakan akan terus meningkat pada tahun-tahun mendatang. Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI) bahkan memprediksi jumlah pengguna telekomunikasi di segmen seluler bisa mencapai 165 juta pengguna pada tahun 2011.


Pengguna selular berteknologi 2G (two generation) dan 3G (three generation) akan terus bertambah. Pengguna 2G akan meningkat dari tiga juta pengguna pada akhir 2007 menjadi 35,5 juta pengguna pada 2011. Sementara pengguna teknologi 3G akan bertambah, dari level 69,7 juta pada 2007 menjadi 95,5 juta pengguna pada 2011 (Jawa Pos, 13/06/08).


Semakin tinggi penetrasi pasar seluler, dengan sendirinya, berdampak positif bagi kemajuan kehidupan sosial-ekonomi masyarakat. Sebab, seperti diketahui, akses telekomunikasi akan menjamin keterpenuhan kebutuhan masyarakat terhadap ilmu dan informasi. Dari pemenuhan kebutuhan ilmu dan informasi itulah, masyarakat bisa meningkatkan kehidupan sosial-ekonominya.


Pemerintah dan operator telekomunikasi kini terus berkomitmen melakukan pemerataan akses telekomunikasi ke seluruh daerah di Indonesia tanpa terkecuali. Komitmen ini tentu patut diapresiasi. Kini banyak pihak mulai sepenuhnya paham bahwa tingkat kesejahteraan dan peradaban masyarakat bisa semakin maju jika akses telekomunikasi dapat mereka nikmati. Proses relasi kehidupan manusia akan berjalan seiring dengan pesatnya berbagai fasilitas telekomunikasi dan media informasi yang bisa dinikmati masyarakat.


Kerja sinergis antara operator telekomunikasi dan pemerintah membawa efek positif bagi masyarakat, khususnya yang berada di kawasan terpencil. Seluruh perusahaan operator telekomunikasi di Indonesia mendukung upaya pemerataan akses telekomunikasi. Dengan memakai prinsip equal treatment, tidak memandang asal penyelenggara telekomunikasi, pemerintah berupaya memberantas buta telekomunikasi di daerah-daerah terpencil. Salah satunya seperti upaya yang dilakukan oleh Depkominfo bersama dengan PT Excelcomindo Pratama Tbk. Selain membangun BTS di Muara Sipongi, yang lokasinya berada di tengah-tengah hutan belantara dan gugusan Bukit Barisan, Depkominfo dan operator kartu seluler merek XL itu juga bekerja sama membangun BTS di daerah terpencil, tepatnya di wilayah Hamadi, Jayapura, yang dilakukan pada 20 Agustus silam (Kompas, 28/10/08).


Yang menggembirakan, selain masyarakat daerah terpencil bisa menikmati layanan telekomunikasi, para perusahaan operator telekomunikasi juga semakin bisa menempatkan diri atas kepentingan bisnis dan sosialnya. Sehingga, aspek yang dikejar bukan semata untuk keuntungan saja, tetapi juga menaikkan tingkat kemajuan dan kesejahteraan masyarakat di tanah air.


Kerja sama antara pemerintah dan operator telekomunikasi ini harus terus dipertahankan secara terus-menerus, sehingga akan lebih mudah dalam menghadapi tantangan dan hambatan pertelekomunikasian, khususnya di segmen seluler pada masa yang akan datang.


Dengan dibangunnya akses telekomunikasi, tidak berlebihan jika dikatakan masa depan warga di daerah terpencil, yang selalu identik dengan keterbelakangan dalam segala hal, bisa berubah. Sebab, akses telekomunikasi memberi harapan yang besar bagi masyarakat di daerah terpencil agar lebih bisa membuka diri dan menerima setiap informasi. Alhasil, kemajuan ilmu pengetahuan bukan lagi hal yang sulit diakses oleh mereka.


Ketersediaan akses telekomunikasi bisa membuka gerbang pengetahuan masyarakat di daerah terpencil dan meningkatkan kesejahteraan melalui pengembangan bisnis sehari-hari mereka, tanpa perlu ketinggalan dengan masyarakat perkotaan. Sebab, seperti sudah disinggung di atas, peran sektor telekomunikasi sangat besar dalam mengubah kehidupan sosial-ekonomi masyarakat daerah terpencil menjadi semakin baik.


Contoh kecilnya, sebelum akses telekomunikasi masuk, seseorang yang berprofesi sebagai pedagang baju di daerah terpencil harus terlebih dahulu menunggu barang dagangan datang tanpa mendapat info pengetahuan dasar mereka tentang harga, keadaan barang, dan juga agen distribusi serta transportasi yang paling efisien. Dengan dibangunnya BTS dan beroperasinya beberapa operator seluler di sana, mereka akan terbantu untuk mengetahui lebih detail segala hal yang menyangkut kebutuhan bisnis mereka.


Contoh lainnya, warga yang bekerja sebagai petani bisa memastikan kapan pupuk subsidi dari pemerintah bisa sampai ke daerah mereka serta menghubungi dinas pertanian yang umumnya berlokasi di kabupaten apabila membutuhkan bantuan jika terjadi masalah.


Membuka akses telekomunikasi di daerah terpencil, khususnya seluler, dengan harga dan layanan yang bisa dijangkau masyarakatnya, sama saja dengan membuka harapan baru untuk perbaikan masa depan bagi banyak orang—masyarakat yang selama ini sering terlewatkan. Read More..

Selimut Nayla

Sudah dua hari ini, hati Nayla agak lega. Dia selesai menjahit selimut untuk dibuatnya tidur bersama emaknya. Walaupun hanya terbuat dari kain bekas yang dibelinya dari Mbok Minah, tetangganya, baginya itu sudah cukup untuk sedikit membuat hangat tubuhnya dan juga emaknya yang dari kemarin terus batuk-batuk tanpa henti.

Mungkin tubuh tua emaknya sudah tidak lagi kuat menghalau tusukan udara malam yang semakin menggigit. Apalagi, di gubuknya yang lembab. Setidaknya selimut itu dapat dibuat sementara sampai Nayla mampu membeli selimut yang benar-benar selimut; yang tebal dan hangat. 

Batuk emaknya yang semakin menjadi-jadi mengisyaratkan padanya bahwa tubuh tua yang sangat disayanginya itu membutuhkan pelengkap tidur selain alas tikar yang memisahkan tubuh emak dan dirinya dari tanah liat gubuknya. Menjadi pelengkap mimpi agar harapan kehangatan hari esok akan menjadi pasti. Lebih baik dari hari ini.

***
Jam dinding satu-satunya di kampung kumuhnya. Yang dipasang warga di mushalla kecil yang terbuat dari bambu, masih menunjukkan pukul 05.00. Namun, Nayla sudah semangat sekali berangkat untuk menjajakan kue dagangan Jeng Sum, keliling sekolah yang membuatnya ingin sekolah, dan juga keluar masuk kampung. Nayla masih berumur 8 tahun. Tapi Nayla tidak bisa sekolah. Tidak ada biaya. Tetangga-tetangganya yang seusia dia pun juga tidak sekolah.

Alasannya sama, tak ada biaya. Apalagi bapaknya sudah lama meninggal karena terjatuh saat menjadi kuli bangunan. Tak ada ganti rugi atau sekedar sumbangan sekadarnya dari tempat bapaknya bekerja. Semuanya berlalu dengan isakan dari Nayla dan emaknya yang tiada henti.

Emaknya yang sudah dua hari ini terbaring sakit sehingga tidak bisa melaukan pekerjaan sehari-harinya menjadi tukang cuci, menambah semangatnya untuk segera menjajakan kuenya. Dia sudah berkhayal. Semakin banyak dagangan yang laku hari ini. Semakin banyak juga uang yang akan dia peroleh. Agar dia bisa membeli obat batuk untuk emak. 

Tujuan pertamanya hari ini adalah ke tempat Bu Aris. Semenjak satu bulan yang lalu, Bu Aris menjadi langganan tetapnya setiap hari. Orangnya sangat baik, juga murah hati. Tak jarang, ia sering memberi uang lebih untuk Nayla. Kadang-kadang juga memberi beberapa potong baju yang sangat bagus. Rumah Bu Aris sangat besar dan megah. Begitu juga rumah tetangga-tetangganya. Tetapi, Nayla tak pernah bermimpi untuk tinggal di rumah seperti itu. Gubuk kardusnya yang sekarang, merupakan surga yang terindah untuknya. Karena dihiasi oleh senyuman emak.

”Beli berapa, Bu, pisang gorengnya?” Nayla sangat hafal kesukaan Bu Aris dan keluarganya, yaitu pisang goreng hangat sebagai teman berkumpul di pagi hari.

”Semuanya, deh. Kebetulan kemarin malam, saudara jauh ibu datang. Dan kebetulan semuanya juga suka pisang goreng. Jadi, pisang goreng kamu, hari ini ibu beli semua.”

”Wah, Bu Aris memang baik sekali sama Nayla. Pagi-pagi begini, kue Nayla sudah laku banyak. Jadi Nayla nanti bisa semakin cepat pulang ke rumah dan ketemu emak. Emak Nayla dari kemarin sakit, Bu,” ujar Nayla sambil menerawang sedih. Nayla memang sering cerita pada Bu Aris.

”Kenapa tidak cerita pada ibu dari kemarin? Emak Nayla sudah periksa? Sudah minum obat?”

”Emak tidak mau dibawa ke puskesmas. Katanya masih harus bayar. Emak tidak mau bikin susah Nayla, katanya. Kata emak lagi, mending uangnya buat beli makan.”

”Kalau begitu, pagi ini, bukan pisang goreng Nayla saja yang ibu beli, tapi semua kue Nayla. Jadi Nayla bisa pulang cepat dan bawa emak ke puskesmas.”

Mendengar hal itu bola mata kecil Nayla berbinar-binar penuh cahaya. Dia sangat berterima kasih pada Tuhan untuk anugerah hari itu. Ibu Aris baik sekali. 

Dengan takjub, Nayla menyahut, ”Benar, Bu? Terima kasih sekali. Ibu baik sekali pada Nayla. Nanti Nayla pasti cerita sama emak. Emak juga pasti sangat berterima kasih sama Ibu,” jawab Nayla dengan senyum mengembang. Mengungkapkan kebahagiaan yang teramat besar dalam hatinya.

”Sudah. Kamu tak perlu berterima kasih pada ibu. Ibu Cuma membeli daganganmu. Itu saja kok. Sebentar ya, ibu masuk dulu mengambil wadah. Jadi kamu tidak perlu repot membungkus kue-kuenya. Kalau Nayla juga pengen masuk ke dalam, boleh kok.”

”Tidak, Bu. Nayla di sini saja.”. Nayla sudah membayangkan betapa gembiranya emaknya nanti. Dagangan kue Jeng Sum laku semua, dan Nayla bisa pulang pagi.

Tak lama, Bu Aris keluar dengan membawa satu wadah besar dan juga tas plastik besar hitam yang Nayla tak tahu apa isinya.

”Bantu ibu ya, naruh kuenya di wadah ini. Terus, ini ada bingkisan buat emak Nayla. Ini ada selimut, kebetulan tidak dipakai. Kalau emak tidur atau Nayla tidur, kan bisa lebih hangat kalau pakai selimut ini. Ibu juga bawakan bungkuskan sarapan, biar nayla dan emak bisa sarapan sama-sama. Ini uang kuenya, kembaliannya Nayla ambil ya. Biarkan Ibu sedikit bantu Nayla untuk beli obatnya emak. Nayla terima ya?”

Kali ini Nayla tidak bisa berkata apa-apa lagi. Dia sudah ingin menangis saking bahagianya. Selimut! benda yang sudah lama diimpikannya. Selimut tebal dan hangat. Dia sudah memabyangkan betapa hangatnya berada di dekapan selimut pemberian Bu Aris. Emaknya juga pasti akan senang sekali. Setidaknya membatasi tubuh emaknya dengan udara dingin dan kelembapan tanah liat rumahnya, yang membuat emaknya makin sakit parah.

”Terima kasih, Bu. Nayla tidak tahu harus berkata apa lagi. Yang jelas, Nayla senang sekali. Nayla pasti tidak akan pernah lupa kebaikan yang ibu berikan selama ini kepada Nayla. Nayla janji, sepulang Nayla dari sini. Nayla langsung membawa emak ke puskesmas,” sahut Nayla yang sambil menangis. Dia sudah tak kuat menahan air mata bahagianya untuk keluar. Dia sudah lupa, berapa lama, dia tak pernah menangis karena bahagia. Yang ada selama ini hanyalah tangisan duka. 

”Sudah-sudah. Berhenti dong nangisnya, ibu ingin lihat Nayla gembira, bukan menangis. Sekarang Nayla cepat pulang. Cepat bawa emak ke puskesmas ya? Besok, kabari ibu bagaimana perkembangan emak,” ujar Bu Aris sambil mengusap kepala Nayla.

”Iya, Bu. Nayla akan lekas bawa emak ke puskesmas. Sekali lagi, terima kasih untuk kebaikan Ibu. Nayla pamit dulu.” Setelah mencium tangan Bu Aris, Nayla pulang dengan segenap hal gembira yang akan disampaikan pada emaknya. dan yang penting, kali ini emak bisa berobat ke puskesmas. Dia membayangkan, seandainya semua orang kaya sikapnya sama dengan Bu Aris…..

***
Sampai kampungnya…., mata Nayla terbelalak. Dia merasa berada dalam alam mimpi. Gubuknya yang baru ditinggalnya selama 3 jam, lenyap tak bersisa. Begitu juga gubuk milik tetangga-tetangganya. Yang ada tinggal suara keras bulldozer untuk meratakan tanah, dan teriakan umpatan dan tangisan yang tak berujung di sana-sini.

Emak! Ya, di mana emak? semuanya dapat dipikirnya belakangan, yang utama adalah emak. di mana emak sekarang? Apalagi saat ditinggal Nayla menjajakan kue tadi, tubuh emak panas, emak sakit. Di mana emak sekarang? Yang ingin dia lihat sekarang, hanyalah emak.
Nayla pun berlarian kesana kemari seraya memanggil emaknya. Menerobos banyak orang.

Yang ada di kepala Nayla hanya emak. tiba-tiba, suara yang sangat amat dikenalnya, suara Mbok Supi, tetangga sebelah kiri gubuknya memanggilnya.

”Nayla, sini. Emak ada di sini. Emak sama Mbok Supi,” Mbok Supi memanggil Nayla dengan wajah penuh air mata.

”Mana, Mbok? Emak Nayla mana?,” dia celingukan melihat di sekitar Mbok Supi berdiri, mencari emaknya, Nayla sudah tidak bisa menyembunyikan tangisan sedihnya.

”Maaf, ya, Nduk. Mbok tidak bisa berbuat apa-apa. Tiba-tiba tadi sekumpulan orang memakai baju hijau-hijau itu menyuruh emakmu dan semua warga di sini keluar. Mereka bilang, kita ini buat rumah di tanah ilegal. Gubuk-gubuk kita semuanya dihancurkan. Katanya tempat ini mau dibangun hotel. Emakmu, juga mbok, dan semuanya hanya bisa menyelamatkan sedikit barang. Semuanya keburu dihancurkan. Tapi…,” Mbok Supi bertutur dengan terpuitus-putus dan terus mengeluarkan air mata.

”Tapi apa, Mbok? Mana emak? Emak Nayla mana?” tanya Nayla bagaikan rintihan yang menyayat. Nayla terus mengedarkan pandangannya sekeliling. Tapi dia tetap tidak bisa menemukan sosok emaknya.

”Emak Nayla sekarang di masjid besar situ. Tadi sudah dimandikan, sekarang tinggal disalati. Nduk, emakmu sekarang sudah menyusul bapakmu ke surga. Tadi emakmu terlalu kaget, dia sakit tapi tetap didorong-dorong keluar. Emakmu tidak kuat. Emakmu ambruk. Emakmu..,” Mbok Supi sudah tak bisa melanjutkan kata-katanya lagi.

Surga? Bapak? Emak menyusul bapak? Nayla langsung menuju masjid besar itu. Di sana ada beberapa tetangganya yang mengaji di samping tubuh emaknya. Wajah emaknya belum ditutup. Nayla menangis. Tapi Nayla melihat emak tersenyum. Emak belum dikafani. Tubuhnya terbungkus selimut. Selimut yang dijahit Nayla tiga hari yang lalu. Selimut yang Nayla rencanakan untuk emak pakai sementara sebelum Nayla sanggup membeli selimut besar dan hangat. Selimut.., selimut yang.., kini, Nayla tak mengerti apa arti selimut. Bukan besar dan hangat. Bukan pula dari kain bekas. Bukan apa-apa.
Read More..

Aku Suka Bintang


Aku suka bintang. Suka sekali. Melebihi sukaku pada es krim, boneka Barbie, coklat, dan roti. Karena mendapatkan bintang tidak memerlukan pengorbanan seperti ketika ingin mendapatkan es krim, boneka, coklat, dan roti. Karena bintang bersedia menemaniku tanpa diminta. Karena bintang hadir selalu indah. Karena bintang tak pernah berkilau setengah-setengah.

Aku suka bintang. Layaknya putri dalam negeri dongeng yang sangat suka pada pangerannya. Namun, aku suka bintang melebihi sukaku pada seorang yang disebut pangeran. Karena pangeran tidak setulus bintang. Karena pangeran tidak sekemilau bintang. Karena pangeran hanya ada dalam buaian pikiran, tidak nyata seperti bintang.

Aku suka bintang. Layaknya seorang ibu yang sangat suka menimang anaknya. Namun, aku suka bintang melebihi sukaku pada seorang yang disebut ibu. Kerena aku tak pernah tahu sosok ibu. Karena ibu adalah sebuah ilusi semu dengan harapanku untuk segera bertemu. Karena ibu tak pernah menimangku. Karena ibu tak pernah meninabobokanku pada setiap malam seperti nyanyian sang bintang.

Aku suka bintang. Layaknya seorang bapak yang sangat suka memapah anaknya belajar berjalan. Namun, aku suka bintang melebihi sukaku pada seorang yang disebut bapak. Karena bapak tak pernah hadir dengan senyum ramah di balik kumisnya. Karena bapak hanyalah khayalan tak bertepi yang ingin segera kutemui. Karena bapak tak pernah mengajariku berjalan. Tidak seperti bintang, yang selalu memberi petunjuk bagi langkahku.

Aku suka bintang. Layaknya orang miskin yang sangat suka pada dermawan. Namun, sukaku pada bintang melebihi sukaku pada seorang yang disebut dermawan. Karena dermawan tak akan pernah singgah dalam laparku dengan tulus dan tanpa maksud. Karena dermawan hanya tersenyum di pipi dan menyeringai bak srigala di hati. Karena dermawan hanya ratapan tak henti untuk melihat ibaan diri. Tidak seperti bintang, yang tulus menjadi dermawan sinar di setiap malam gelapku.

Aku suka bintang. Layaknya seorang anak yang sangat suka bermain dengan anak seusianya. Namun, sukaku pada bintang melebihi sukaku pada seorang yang disebut anak seusiaku. Karena anak seusiaku hanya bermain dengan anak yang mereka anggap sama dengannya. Karena anak seusiaku terbiasa mengadu pada bukan anak seusiaku. Karena anak seusiaku tidak pernah merasa kelabu seperti warna hariku. Karena anak seusiaku tidak pernah akan mengerti aku. Tidak seperti bintang, yang selalu bermain denganku tanpa melihat ini-ituku. 

Aku suka bintang. Layaknya deburan ombak yang sangat suka untuk menghampiri tepi pantai. Namun, sukaku pada bintang melebihi sukaku pada sebuah ombak dan sebuah pantai. Karena ombak tidak tentu berperasaan. Karena ombak datang, terkadang dengan muka cerah dan muka masam. Karena pantai hanya tepi yang akan terkikis dengan serbuan ombak bermuka masam. Tidak seperti bintang, yang tak pernah bermuka masam, dan tak pernah terkikis guratan.

Aku suka bintang. Layaknya malam yang sangat suka kehadiran sang bintang. Namun, sukaku pada bintang melebihi sukaku pada malam yang menghadirkan bintang. Karena malam adalah kelam tanpa kehadiran sang bintang. Karena malam hanyalah kegelapan yang tak berpetunjuk sinar tanpa ketulusan hati sang bintang. 

Aku suka bintang. Melebihi sukaku pada diriku sendiri. Karena aku hanyalah sosok tak berarti. Karena aku hanyalah kegelapan tak bertepi. Karena kau tak suka akan kehadiran diriku. Hanya bintang. Yang kusuka hanya bintang.

***

”Pak, boleh, ya Pak? Uang saya tinggal seribu. Saya lapar sekali. Beli nasi sama tempe saja ya, Pak? Masa seribu tidak boleh?”
”Duh, nih bocah! Sudah saya kasih tahu dari tadi, apa-apa sekarang itu mahal. Nasi sama tempe itu harganya seribu lima ratus. Kalau yang beli seperti kamu semua. Bisa bangkrut saya! Sudah sana pergi! Punya uang seribu minta makan ada lauknya. Masih untung kalau kamu kukasih nasi saja. Eh, malah maksa ada lauknya. Sudah sana!”

Aku bingung, marah pada keadaan. Salahkah orang yang hanya punya uang seribu rupiah? Salahkah jika perutku menuntut haknya? Salahkah aku memohon sebuah kerelaan hati saja? Toh aku tidak sepenuhnya meminta-minta. Toh aku sudah berusaha. Toh aku…toh aku…

Saat seperti ini aku merindukan bintang. Saat ada bintang aku pasti bisa bercerita banyak padanya. Dan, laparku bisa sedikit berkurang.

Huh kuseka keringat yang mengucur perlahan. Surabaya semakin tanpa ampun menunjukkan sengatannya. Bukan hanya sengatan matahari, tapi juga sengatan pada hati. Sikat dan semir, serta lap yang kubawa seakan-akan sudah meronta untuk segera dipergunakan. Tapi, apa daya? Jika tak ada satupun orang yang memakai jasaku sedari pagi ini. Aku ingin segera malam…, segera bertemu bintang…, walau gelap, tapi bisa kulepas kepenatan.

***

Malam telah tiba. Uang seribu sisa hari kemarin masih kupegang. Tak berubah. Lumayan, setelah dimaki-maki oleh bapak pemilik warung tadi, ada sekelompok mbak-mbak cantik dan mas-mas ganteng, membagi nasi bungkus gratis di jalan. Aku tak tahu mereka dari mana dan maksudnya apa. Tapi yang aku lihat jelas di mobil tempat mereka mengangkut nasi, ada kain lebar yang bertuliskan ”Aksi Bakti Sosial Pemuda-Pemudi Pembela Hak Rakyat bekerja sama dengan Partai Milik Golongan Seluruh Bangsa (PMGSB). Yang aku heran, mengapa tidak menanyai kami nanti makan malam apa? Ah, sudahlah, yang penting perutku sudah terpenuhi haknya.

Bintang di langit sungguh indah. Aku berjalan menuju lapangan tempat aku biasa berbaring dengan sangat gembira. Tak sabar untuk segera bercerita pada bintang. 

Tin,…tin…,tin…Gubrak! Ah, aku tak ingat apa-apa lagi. Seingatku aku tadi hendak menyeberang jalan. Cuma samar-samar kulihat sebuah mobil biru yang sangat bagus berhenti agak jauh dari tempatku. Seorang keluar dari pintu mobil. Ha..? mbak itu? Mbak yang tadi ikut membagi-bagikan nasi bungkus itu? Dia melihatku dari kejauhan, lalu masuk lagi, dan mobil itu langsung melesat pergi.

Aku tidak mengerti. Tubuhku seraya melayang. Ingin kuteriak, tapi tak ada kata yang bisa keluar. Kulihat ke atas langit…ada bintang. Dia melambaikan tangan, kilaunya semakin tercerahkan…Dan tiba-tiba semuanya menghilang…gelap…yang kulihat dan kutahu cuma ada bintang. Karena aku suka bintang. Suka sekali.

Jember,  untuk potret lusuh kehidupan; di langit banyak bintang!

Gambar diambil dari (helengurl.wordpress.com)

Read More..